Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan http://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA <p><strong>Medika Alkhairaat : Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan</strong> published by Faculty of Medicine, Alkhairaat University is a peer-reviewed scientific journal dedicated to publishing good quality of research work in all areas of medical sciences.</p> Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat en-US Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan 2657-179X <p align="justify">Authors who publish with Medika Alkhairaat : Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan agree to the following terms:</p> <p align="justify">1. Authors retain copyright and grant Journal Medika Alkhairaat right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial License (http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/) that allows others to remix, adapt, build upon the work non-commercially with an acknowledgement of the work’s authorship and initial publication in Journal Medika Alkhairaat.<br>2. Authors are permitted to copy and redistribute the journal’s published version of the work non-commercially (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in Journal Medika Alkhairaat.</p> GLOBAL TRENDS IN ENTOMOTOXICOLOGY FORENSICS: INNOVATIONS, CHALLENGES AND FUTURE DIRECTIONS http://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/426 <p><em><strong>ABSTRACT</strong></em></p> <p><em>Forensic entomotoxicology is increasingly important in medico-legal investigations, particularly when conventional biological matrices are unavailable due to advanced decomposition. Necrophagous insects can retain xenobiotics and exhibit drug-induced developmental changes that may affect post-mortem interval (PMI) estimation. However, a comprehensive overview of global research trends and methodological progress in this field remains limited. This study supports SDGs 3(Good Health and Well-Being), 16 (Peace, Justice and Strong Institutions), and 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) by promoting innovative and standardized forensic entomotoxicology practices to enhance toxicological detection and evidentiary reliability. </em><em>This study aimed to evaluate global publication trends, summarize analytical and experimental approaches, and identify key challenges in forensic entomotoxicology. A combined bibliometric analysis and narrative review was conducted using Scopus and PubMed databases, covering publications from 1991 to 2025. Following systematic screening, 87 peer-reviewed studies involving 5,214 insect samples across various developmental stages were analyzed. Extracted data included insect taxa, xenobiotic classes, analytical platforms, and forensic outcomes. </em><em>The results showed a marked increase in publications after 2010, peaking in 2023. Most studies focused on qualitative xenobiotic detection, while several evaluated developmental effects relevant to PMI estimation. Analytical methods evolved from GC-MS and HPLC to advanced LC-MS/MS and spectroscopic techniques. Although insects proved reliable as alternative matrices, quantitative correlations with human tissues remained inconsistent. Standardized methodologies and validated reference models are therefore essential to support the routine forensic application of entomotoxicology.</em></p> <p>&nbsp;</p> Idha Arfianti Wiraagni Melodia Rezadhini Naufal Tsabiqul Azmi Lia Yulianti Siregar Putri Anggun Dhiasworo Muhammad Farid Rahman Didi Erwandi Mohamad Haron Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-08-22 2026-08-22 8 02 1526 1546 10.31970/ma.v8i02.426 GAMBARAN PENDERITA ILEUS OBSTRUKSI DI RSUD HAJI MAKASSAR TAHUN 2023-2024 http://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/449 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p style="font-weight: 400;">Ileus obstruksi merupakan kegawatdaruratan abdomen yang ditandai dengan morbiditas dan mortalitas tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penderita ileus obstruksi di RSUD Haji Makassar periode tahun 2023-2024. Metode yang digunakan adalah observasional deskriptif dengan rancangan retrospektif. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling, diperoleh 20 pasien. Analisis data dilakukan secara deskriptif melalui distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok usia terbanyak adalah 21-35 tahun (25,0%), dengan jenis kelamin laki-laki yang mendominasi (70,0%). Etiologi tersering adalah hernia (55,0%), diikuti oleh adhesi (40,0%) dan tumor (5,0%). Lama rawat inap paling banyak ditemukan dalam kategori singkat (&lt;6 hari) yaitu sebanyak 70,0%. <em>Outcome</em> pasien terdiri dari pasien sembuh (70,0%), dirujuk ke fasilitas kesehatan lain (10,0%), dan meninggal dunia (20,0%). Simpulan penelitian ini adalah ileus obstruksi di RSUD Haji Makassar paling banyak terjadi pada laki-laki usia produktif dengan penyebab utama hernia. Meskipun mayoritas pasien memiliki outcome kesembuhan yang baik, angka kematian sebesar 20% masih tergolong tinggi sehingga memerlukan perhatian lebih lanjut.</p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em>Ileus obstruction is an abdominal emergency characterized by high morbidity and mortality. This study aims to describe the characteristics of patients with ileus obstruction at Makassar Haji Hospital for the 2023–2024 period. A descriptive observational study with a retrospective design was employed. The sampling technique used total sampling, involving 20 patients. Data were analyzed descriptively using frequency distribution. The results showed that the most common age group was 21–35 years (25.0%), with a male predominance (70.0%). The most frequent etiology was hernia (55.0%), followed by adhesions (40.0%) and tumors (5.0%). The majority of patients had a short length of hospital stay (&lt;6 days), accounting for 70.0%. Patient outcomes consisted of recovery (70.0%), referral to other health facilities (10.0%), and death (20.0%). The study concludes that ileus obstruction at Makassar Haji Hospital predominantly affects men of productive age, with hernia as the main cause. Although most patients achieved good recovery outcomes, the mortality rate of 20% remains relatively high and requires further attention..</em></p> Aliyyah Butzaina Rukman Azis Beru Gani Zulfikri Khalil Novriansyah Berry Erida Hasbi Muhammad Wirawan Harahap Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-08-22 2026-08-22 8 02 1547 1554 10.31970/ma.v8i02.449 POTENSI EKSTRAK DAUN JERUK KEPROK SEBAGAI MEDIA PENGENDALIAN JENTIK NYAMUK Aedes sp. http://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/455 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><span lang="IN">Efektivitas ekstrak daun Jeruk Keprok sebagai insektisida nabati merupakan alternatif ramah lingkungan dalam pengendalian jentik nyamuk <em>Aedes sp </em>sebagai vektor utama Demam Berdarah Dengue (DBD). Daun Jeruk Keprok mengandung flavonoid, alkaloid, dan tanin yang berpotensi menyebabkan kematian jentik <em>Aedes sp. </em>Penelitian ini merupakan eksperimen laboratorium dengan rancangan acak lengkap menggunakan 360 jentik instrar III. Perlakuan terdiri dari konsentrasi 0,05%, 0,075%,0,1%,0,25% dan 0,5% dengan tiga kali replikasi. Hasil analisis univariat menunjukkan jumlah kematan jentik meningkat seiring bertambahnya konsentrasi ekstrak. Pada konsentrasi 0,05% rata-rata kematian jentik sebanyak 8 ekor, sedangkan pada konsentrasi 0,5% rata-rata kematian mencapai 20 ekor selama 24 jam pengamatan. Hasil analisis <em>One Way</em> ANOVA menunjukkan terdapat perbedaan nilai signifikan antarperlakuan ( p &lt; 0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah ekstrak daun Jeruk Keprok berpotensi efekif sebagai lavarsida alami yang aman dan ramah lingkungan.</span></p> <p><em><strong>ABSTRACT</strong></em></p> <p><em>The effectiveness of Tangerine leaf extract as a botanical insecticide is an environmentally friendly alternative for controling Aedes sp larvae as the vector of Dengue Hermorrhagic Fever (DHF). Tangerine leaves contain flavonoids, alkoloids, and tannins which have the potential to cause larva mortality. This study aimed to describe the univariate analysis of the effectveness of Tangerine leaf extract based on concentration variations againts the mortality of Aedes sp larvae. This study was a laboratory experiment using a comletely randomized design with 360 third-instar larvae. The treatmens consisted of extract concentration of 0.05%, 0.075%, 0.1%, 0.25%, and 0.5% with three replications. The univariate analysis showed that larvae mortality increased along with higher extract concentrations. At the 0.05% concentration, the average mortality was 8 larvae within 24 hours of observation. In conclusion, Tangerine leaf extract has the potential to be an effective, safe, and environmentally friendly natural larvicide.</em></p> Pretty Alya Eudioa Milano Pandie Mustakim Sahdan Tanti Rahayu Agus Setyobudi Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-08-22 2026-08-22 8 02 1555 1560 10.31970/ma.v8i02.455 PENGARUH PRAKTIK SLEEP HYGIENE DENGAN MEDIATOR KUALITAS TIDUR TERHADAP KESEHATAN MENTAL MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO http://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/456 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Gangguan kualitas tidur dan kesehatan mental merupakan masalah umum pada mahasiswa, khususnya mahasiswa kedokteran yang menghadapi tekanan akademik tinggi. Praktik sleep hygiene yang buruk berkontribusi terhadap penurunan kualitas tidur dan berdampak negatif pada kesehatan mental, seperti stres dan kecemasan. Tingginya prevalensi gangguan tidur dan masalah kesehatan mental pada kelompok usia 15–24 tahun menunjukkan bahwa isu ini penting karena memengaruhi kesejahteraan dan produktivitas akademik. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh praktik sleep hygiene terhadap kesehatan mental mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako, dengan kualitas tidur sebagai mediator. Metode yang digunakan adalah observasional analitik dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 184 mahasiswa yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen penelitian meliputi Sleep Hygiene Index (SHI), Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), dan General Health Questionnaire-12 (GHQ-12). Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan multiple regression. Hasil penelitian menunjukkan 50,5% responden memiliki praktik sleep hygiene buruk, 89,7% memiliki kualitas tidur buruk, dan 89,7% mengalami distress psikologis. Analisis menunjukkan hubungan signifikan antara praktik sleep hygiene dan kualitas tidur terhadap kesehatan mental (p &lt; 0,01; r = 0,056). Temuan ini menegaskan pentingnya penerapan sleep hygiene yang baik dalam menjaga kualitas tidur dan kesehatan mental mahasiswa.</p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em><span lang="EN-US">Sleep quality disorders and mental health problems are common among students, especially medical students who have high academic pressure. Poor sleep hygiene contributes to decreased sleep quality, which negatively impacts mental health, including increased stress and anxiety. The high prevalence of sleep and mental health disorders among individuals aged 15–24 highlights the importance of this issue, as it significantly impacts students’ well-being and academic productivity. This study aims to determine the influence of sleep hygiene practices on the mental health of students of the Faculty of Medicine, Tadulako University by considering the quality of sleep as a mediator. This research method used an observational analytical method with a cross-sectional design. A total of 184 students were selected through purposive sampling. Research instruments included the Sleep Hygiene Index (SHI), Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), and General Health Questionnaire-12 (GHQ-12). Data were analyzed using univariate, bivariate, and multivariate methods with multiple regression. The results showed that 50.5% of respondents had poor sleep hygiene practices, 87.5% experienced poor sleep quality, and 89.7% showed psychological distress. Multiple regression analysis revealed a significant relationship between sleep hygiene, sleep quality, and mental health (p &lt; 0.001; r = 0.903), emphasizing the importance of good sleep hygiene.</span></em></p> Putu Inggried Lakshmy Prahastyalokha Jane Mariem Monepa Ressy Dwiyanti Rahma Badaruddin Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-08-22 2026-08-22 8 02 1561 1568 10.31970/ma.v8i02.456 KETERKAITAN PARITAS DAN KEJADIAN PERDARAHAN POSTPARTUM PRIMER DI RSUD Hj. ANNA LASMANAH BANJARNEGARA http://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/458 <p><strong><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">ABSTRAK</span></span></strong></p> <p><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Ketika seorang wanita mengalami kehilangan darah yang signifikan setelah melahirkan, hal itu dikenal sebagai pendarahan primer postpartum. Kehilangan darah yang signifikan terjadi pada persalinan bedah (operasi caesar) ketika melebihi 1000 ml, sedangkan pada persalinan normal melalui vagina melebihi 500 ml. Karena peran pentingnya dalam kematian ibu, perdarahan postpartum merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di seluruh dunia. Ada banyak elemen yang berkontribusi pada masalah yang terus berlanjut dalam kesehatan global, dan salah satunya adalah paritas, atau riwayat ibu dalam memiliki anak. Dengan pengumpulan data tentang frekuensi pendarahan primer postpartum, persentase ibu dengan paritas berisiko tinggi dan rendah, dan pemeriksaan faktor-faktor yang berkontribusi dan dipengaruhi oleh paritas, penelitian ini berharap dapat menarik kesimpulan tentang sifat dan luasnya hubungan antara keduanya. Menggunakan informasi dari rekam medis 104 peserta, penelitian ini menggunakan pendekatan analitik </span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">cross-sectional</span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> . Uji </span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Chi-Square</span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> digunakan untuk analisis bivariat. Ditemukan korelasi antara paritas risiko tinggi dan kejadian pendarahan primer postpartum, seperti yang ditunjukkan oleh data statistik (nilai p = 0,0001). Ibu dengan paritas risiko tinggi 5,31 kali lebih mungkin merasakan perdarahan postpartum primer dibandingkan dengan ibu dengan paritas risiko rendah, menurut penelitian estimasi risiko, yang menampilkan rasio odds (OR) sebesar 5,31. Kesimpulannya, frekuensi perdarahan postpartum primer sangat terkait dengan paritas risiko tinggi. Hal ini menekankan pentingnya inisiatif pencegahan komplikasi pascapersalinan yang mencakup pemantauan dan pengobatan wanita selama kehamilan dan setelah melahirkan.</span></span></p> <p><em><strong><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">ABSTRACT</span></span></strong></em></p> <p><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span lang="IN">When a woman has significant blood loss after giving birth, it is known as primary postpartum haemorrhage. Significant blood loss occurs in surgical deliveries (caesarean sections) when it surpasses 1000 ml, while in regular vaginal deliveries it surpasses 500 ml. Because of the significant role it plays in maternal mortality, postpartum haemorrhage is an important public health concern worldwide. There are a lot of elements that contribute to this persistent problem in global health, and one of them is parity, or the mother's history of having children. By collecting data on the frequency of primary postpartum haemorrhage, the percentage of mothers with high-risk and low-risk parity, and an examination of the factors that contribute to and are influenced by parity, this study hopes to draw conclusions about the nature and extent of the association between the two. Using information from 104 participants' medical records, the research used an analytical cross-sectional approach. The Chi-Square test was used for bivariate analysis. There was a link between high-risk parity and the incidence of primary postpartum haemorrhage, as shown by the statistical data (p-value = 0.001). Mothers with high-risk parity are 5.31 times more likely to have primary postpartum haemorrhage compared to those with low-risk parity, according to risk estimating research, which indicated an odds ratio (OR) of 5.31. The frequency of main postpartum haemorrhage is highly linked with high-risk parity, to conclude. This emphasises the significance of postpartum complication prevention initiatives that include monitoring and treating women throughout pregnancy and after giving birth.</span></span></span></em></p> Agnastera Putri Salsyabilla Ricky Susanto Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-08-22 2026-08-22 8 02 1569 1578 10.31970/ma.v8i02.458 FAKTOR YANG BERHHUBUNGAN DENGAN RENDAHNYA PARTISIPASI USIA PRODUKTIF DALAM SKRINING PENYAKIT TIDAK MENULAR DI KELURAHAN OESAPA SELATAN http://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/459 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan masalah kesehatan utama yang berkontribusi besar terhadap angka kesakitan dan kematian, sehingga deteksi dini melalui skrining menjadi strategi penting. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan rendahnya partisipasi masyarakat usia produktif dalam skrining PTM di Kelurahan Oesapa Selatan. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi berjumlah 1.485 orang dengan sampel 90 responden yang dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitas, serta dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden tidak berpartisipasi dalam skrining PTM (73,3%). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi kerentanan (p=0,351) dan persepsi manfaat (p=0,573) dengan partisipasi skrining. Sebaliknya, terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi hambatan (p=0,005) dengan partisipasi skrining PTM. Kesimpulannya, rendahnya partisipasi skrining PTM dipengaruhi oleh tingginya persepsi hambatan, sehingga upaya peningkatan partisipasi perlu difokuskan pada pengurangan hambatan yang dirasakan masyarakat.</p> <p><em><strong>ABSTRACT</strong></em></p> <p style="font-weight: 400;"><em>Noncommunicable diseases (NCDs) are a major health problem that significantly contributes to morbidity and mortality rates, making early detection through screening a critical strategy. This study aims to analyze the factors associated with low participation among the working-age population in NCD screening in the Oesapa Selatan subdistrict. This study employed a quantitative design with a cross-sectional approach. The population consisted of 1,485 individuals, with a sample of 90 respondents selected using proportionate stratified random sampling. Data were collected through interviews using a questionnaire that had been validated for validity and reliability, and analyzed univariately and bivariately using the Chi-Square test. The results showed that the majority of respondents did not participate in NCD screening (73.3%). There was no significant association between perceived vulnerability (p=0.351) and perceived benefits (p=0.573) and screening participation. Conversely, there was a significant association between perceived barriers (p=0.005) and NCD screening participation. In conclusion, low NCD screening participation is influenced by high perceived barriers; therefore, efforts to increase participation should focus on reducing the barriers perceived by the community.</em></p> Angelica Patriek Elimanafe Serlie K.A. Littik Dominirsep O. Dodo Fransisikus G. Mado Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-08-22 2026-08-22 8 02 1579 1590 10.31970/ma.v8i02.459 ANALISIS KERUGIAN EKONOMI PADA PENDERITA HIPERTENSI DI PUSKESMAS OESAPA http://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/460 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Hipertensi merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi tinggi dan dikenal sebagai silent killer karena sering tanpa gejala namun berisiko menimbulkan komplikasi serius. Secara global, diperkirakan 1,28 miliar orang dewasa mengalami hipertensi, dan hampir setengahnya tidak mengetahui statusnya. Di Indonesia, prevalensi mencapai 29,2%, sedangkan di Nusa Tenggara Timur sebesar 26,4%. Di Kota Kupang, kasus hipertensi di Puskesmas Oesapa meningkat signifikan dari 4.985 kasus pada tahun 2022 menjadi 59.888 kasus pada 2024. Penelitian ini bertujuan mengetahui besarnya kerugian ekonomi pada penderita hipertensi di Puskesmas Oesapa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 352 responden dan dianalisis secara deskriptif. Hasil menunjukkan total kerugian ekonomi sebesar Rp177.197.117 per tahun dengan rata-rata Rp503.400 per pasien. Biaya tidak langsung merupakan komponen terbesar, diikuti biaya langsung medis dan nonmedis. Biaya tak berwujud tergolong rendah, dengan sebagian besar responden jarang mengalami gangguan, meskipun kekhawatiran terhadap komplikasi masih dominan. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun dampak psikologis relatif terkendali, diperlukan penguatan upaya promotif, preventif, serta peningkatan kepatuhan terapi untuk menekan beban ekonomi hipertensi.</p> <p><em><strong>ABSTRACT</strong></em></p> <p><em><span lang="EN-US">Hypertension is a highly prevalent non-communicable disease and is known as a silent killer because it is often asymptomatic but carries the risk of serious complications. Globally, an estimated 1.4 billion adults have hypertension, and nearly half are unaware of their status. In Indonesia, the prevalence reaches 29.2%, while in East Nusa Tenggara it is 26.4%. In Kupang City, hypertension cases at the Oesapa Community Health Center increased significantly from 4.985 cases in 2022 to 59.888 cases in 2024. This study aims to determine the magnitude of economic losses for hypertension sufferers at the Oesapa Community Health Center. This type of research is quantitative with a cross-sectional design. The study sample consisted of 352 hypertension patients selected using simple random sampling. The analysis was conducted descriptively. The results showed a total economic loss of IDR 204.443.117 (approximately USD 11.605) per year, with an average loss of IDR 580.803 (approximately USD 33) per patient per year. Most respondents fell into the low intangible cost impact category, although concerns about complications remained the most dominant aspect. Indirect costs constitute the largest component of the economic losses of hypertension patients, while intangible costs are relatively low. These findings highlight the need to strengthen promotive and preventive efforts, as well as improve adherence to therapy, to reduce the economic burden of hypertension.</span></em></p> Diyen Fani Mariatin Moinfani Dominirsep Ovidius Dodo Tasalina Yohana Gustam Petrus Romeo Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-08-22 2026-08-22 8 02 1591 1603 10.31970/ma.v8i02.460 HUBUNGAN ANTARA PAPARAN KIE KESEHATAN REPRODUKSI DENGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TENTANG PERSIAPAN KEHAMILAN PADA CALON PENGANTIN DI PUSKESMAS BAKUNASE KOTA KUPANG http://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/461 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Persiapan kehamilan merupakan salah satu upaya penting dalam meningkatkan kesehatan ibu dan bayi serta mencegah terjadinya komplikasi selama masa kehamilan, salah satu strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesiapan calon pengantin adalah melalui Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kesehatan reproduksi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara paparan KIE kesehatan reproduksi dengan pengetahuan dan sikap tentang persiapan kehamilan pada calon pengantin di wilayah kerja Puskesmas Bakunase Kota Kupang. Desain penelitian yang digunakan adalah kuantitatif analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah calon pengantin yang mengikuti program KIE, dengan sampel sebanyak 31 responden yang dipilih melalui teknik <em>total sampling</em>. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner melalui wawancara dan dianalisis secara univariat dan &nbsp;bivariat menggunakan uji Fisher’s Exact dengan tingkat kemaknaan 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki paparan KIE yang rendah-sedang (61,3%). Tingkat pengetahuan responden sebagian besar berada pada kategori baik (48,4%) dan cukup (41,9%). Seluruh responden menunjukkan sikap positif terhadap persiapan kehamilan (100%). Hasil analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara paparan KIE dengan pengetahuan (p-value = 1,000). Analisis hubungan dengan sikap tidak dapat dilakukan karena data bersifat konstan. Disimpulkan bahwa paparan KIE tidak berhubungan signifikan dengan pengetahuan calon pengantin. Oleh karena itu, diperlukan strategi edukasi yang lebih iatif dan berkelanjutan untuk meningkatkan pemahaman dalam persiapan kehamilan yang sehat.</p> <p><em><strong>ABSTRACT</strong></em></p> <p><em><span lang="EN-US">Pregnancy preparation is an important effort to improve maternal and infant health and prevent complications during pregnancy. One strategy that can be implemented to improve the readiness of prospective brides and grooms is through reproductive health Communication, Information, and Education (IEC). This study aims to analyze the relationship between exposure to reproductive health IEC and knowledge and attitudes about pregnancy preparation among prospective brides and grooms in the Bakunase Community Health Center, Kupang City. Quantitative analytical observational study was used in this research with a cross-sectional approach. The study population was prospective brides and grooms who participated in the IEC program, with a sample of 31 respondents selected through total sampling technique. Data were collected using questionnaires through interviews and analyzed univariately and bivariately using Fisher's Exact test with a significance level of 0.05. The results showed that most respondents had low-moderate IEC exposure (61.3%). Most respondents had good (48.4%) and sufficient (41.9%) knowledge levels. All respondents showed a positive attitude towards pregnancy preparation (100%). The bivariate analysis showed no significant relationship between IEC exposure and knowledge (p-value = 1.000). Analysis of the relationship with attitudes could not be conducted due to constant data. It was concluded that IEC exposure was not significantly associated with prospective brides' knowledge. Therefore, more innovative and sustainable educational strategies are needed to improve understanding of healthy pregnancy preparation.</span></em></p> Yuliana Sonia Bupu Christina Rony Nayoan Tanti Rahayu Marni Marni Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-08-22 2026-08-22 8 02 1604 1611 10.31970/ma.v8i02.461 HUBUNGAN PERAN GURU, ORANG TUA DAN TEMAN SEBAYA DENGAN PERILAKU PENCEGAHAN KEHAMILAN REMAJA PUTRI DI SMA NEGERI TOBU KABUPATEN TTS http://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/462 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><a name="_Hlk228364368"></a><span lang="IN">Kehamilan pada usia remaja merupakan salah satu masalah kesehatan reproduksi yang dapat berdampak pada kesehatan fisik, psikologis, dan sosial remaja. Faktor lingkungan sosial seperti peran guru, orang tua, dan teman sebaya dapat mempengaruhi perilaku pencegahan kehamilan remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan peran guru, orang tua, dan teman sebaya dengan perilaku pencegahan kehamilan remaja putri di SMA Negeri Tobu, Kabupaten TTS. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain <em>cross sectional</em>. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja putri di SMA Negeri Tobu dengan jumlah sampel sebanyak 99 responden yang dipilih menggunakan teknik</span><em><span lang="IN">stratified proportionate random sampling</span></em><span lang="IN">. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dengan skala Likert. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan </span><a name="_Hlk233227017"></a><span lang="IN">α</span><span lang="IN"> = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara peran guru dengan perilaku pencegahan kehamilan remaja putri (p=0,</span><span lang="FI">1</span><span lang="IN">0</span><span lang="FI">4</span><span lang="IN">). Namun, terdapat hubungan antara peran orang tua (p</span><span lang="FI">&lt;</span><span lang="IN">0,001) dan peran teman sebaya (p</span><span lang="FI"> &lt; </span><span lang="IN">0,001) dengan perilaku pencegahan kehamilan remaja putri.</span> <span lang="IN">Orang tua disarankan untuk meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja melalui berbagai sumber informasi dan memperkuat peran mentoring dalam mendampingi remaja. Selain itu, perlu dilakukan edukasi kesehatan reproduksi kepada teman sebaya agar dapat menjadi sumber informasi dan dukungan yang positif dalam upaya pencegahan kehamilan remaja.</span></p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em>Adolescent pregnancy is a reproductive health issue that can impact adolescents’ physical, psychological, and social well-being. Social environmental factors, such as the roles of teachers, parents, and peers can influence adolescent pregnancy prevention behaviors. The aims of this study were to examine the relationship between the roles of teachers, parents, and peers and adolescent pregnancy prevention behaviors among female students at SMA Negeri Tobu, TTS Regency. A quantitative cross-sectional study was used in all population of female adolescents at SMA Negeri Tobu. The sample size of 99 respondents were selected using proportionate stratified random sampling technique. Data collection was conducted using a questionnaire with a Likert scale. Data analysis was performed using univariate and bivariate methods with the Chi-Square test at a significance level of α = 0.05. The results indicate that there is no association between the role of teachers and adolescent girls’ pregnancy prevention behaviors (p=0.104). However, there is an association between the role of parents (p=0.001) and the role of peers (p=0.001) and adolescent girls’ pregnancy prevention behaviors. It is recommended that parents improve communication and supervision and pay attention to the influence of peers in preventing adolescent pregnancy</em><em>.</em></p> Elsa Olla Masrida Sinaga Tanti Rahayu Christina Rony Nayoan Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-08-22 2026-08-22 8 02 1612 1618 10.31970/ma.v8i02.462 HUBUNGAN GANGGUAN PENGLIHATAN DENGAN TINGKAT PRESTASI PADA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 2 KOTA PALU TAHUN 2025 http://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/468 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Gangguan penglihatan merupakan isu kesehatan global yang mendapat perhatian serius, termasuk di Indonesia. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara ketajaman penglihatan yang diukur dengan bagan Snellen dan prestasi akademik pada siswa kelas XI SMA Negeri 2 Palu. Desain penelitian menggunakan observasional analitik dengan pendekatan kuantitatif dan desain cross-sectional yang melibatkan 189 responden. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Mayoritas siswa (180 orang) tidak mengalami gangguan penglihatan, sedangkan 9 siswa mengalami gangguan penglihatan; (2) Sebagian besar siswa (166 orang) memiliki prestasi akademik yang tergolong baik, sementara 23 siswa tergolong tidak berprestasi; (3) Terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara gangguan penglihatan dengan prestasi akademik (p=0,002), meskipun kekuatan hubungan tersebut sangat lemah (koefisien korelasi=0,016). Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun hubungan statistik terdeteksi, kontribusi gangguan penglihatan terhadap variasi prestasi akademik dalam sampel ini sangat kecil. Hasil yang tampak kontradiktif ini diduga disebabkan oleh ukuran sampel yang besar dan adanya variabel perancu lainnya.</p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em><span lang="EN-US">Vision impairment is a global health issue that has received serious attention, including in Indonesia. This study aims to analyze the relationship between visual acuity measured using the Snellen chart and academic achievement in 11th grade students at SMA Negeri 2 Palu. The study design used an analytical observational approach with a quantitative and cross-sectional design involving 189 respondents. The results of the study show: (1) The majority of students (180) did not experience visual impairment, while 9 students did; (2) Most students (166) had good academic performance, while 23 students did not; (3) There was a statistically significant relationship between visual impairment and academic achievement (p=0.002), although the strength of the relationship was very weak (correlation coefficient=0.221). These findings indicate that although a statistical relationship was detected, the contribution of visual impairment to the variation in academic achievement in this sample was very small. These seemingly contradictory results are thought to be due to the large sample size and the presence of other confounding variables.</span></em></p> Dhia Fakhirah Adistya Rosa Dwi Wahyuni Elli Yane Bangkele Miranti Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-08-22 2026-08-22 8 02 1619 1625 10.31970/ma.v8i02.468 ASSOCIATION BETWEEN SMOKING STATUS AND RANDOM BLOOD GLUCOSE LEVELS AMONG EMPLOYEES IN GADING SUBDISTRICT http://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/469 <p style="font-weight: 400;"><strong>ABSTRAK</strong></p> <p style="font-weight: 400;"><span lang="EN-US">Prevalensi perokok di Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, yang berdampak pada meningkatnya risiko berbagai penyakit akibat kebiasaan merokok. Salah satu penyakit yang berkaitan dengan rokok adalah diabetes melitus. Kandungan nikotin dalam rokok diketahui dapat mengganggu kerja insulin sehingga memicu peningkatan kadar glukosa darah. </span><span lang="FI">Selain itu, nikotin juga dapat menekan nafsu makan sehingga berpotensi menurunkan kadar glukosa darah atau menyebabkan hipoglikemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status merokok dengan kadar glukosa darah sewaktu pada pegawai di Kelurahan Gading, Tambaksari, Surabaya. </span><span lang="EN-US">Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan<span class="apple-converted-space">&nbsp;</span><em>cross sectional</em>. Data primer diperoleh melalui kuesioner<span class="apple-converted-space">&nbsp;</span>Fagerström Test for Nicotine Dependence<span class="apple-converted-space">&nbsp;</span>dan pemeriksaan kadar glukosa darah menggunakan alat<span class="apple-converted-space">&nbsp;</span><em>Accu-Chek</em>. Teknik pengambilan sampel adalah<span class="apple-converted-space">&nbsp;</span><em>consecutive sampling</em><span class="apple-converted-space">&nbsp;</span>dengan jumlah responden sebanyak 100 orang. Uji normalitas dilakukan dengan Kolmogorov-Smirnov, sedangkan analisis bivariat menggunakan uji<span class="apple-converted-space">&nbsp;</span><em>Spearman rank correlation</em><span class="apple-converted-space">&nbsp;</span>dengan tingkat signifikansi ≤ 0,05. Hasil penelitian menunjukkan nilai<span class="apple-converted-space">&nbsp;</span><em>p-value</em><span class="apple-converted-space">&nbsp;</span>0,004 dengan koefisien korelasi 0,28, yang mengindikasikan adanya hubungan positif dan cukup antara status merokok dengan kadar glukosa darah sewaktu. Temuan ini menegaskan bahwa kebiasaan merokok berkontribusi terhadap peningkatan kadar glukosa darah pada pegawai di Kelurahan Gading</span><span lang="IN">.</span></p> <p style="font-weight: 400;"><em><strong>ABSTRACT</strong></em></p> <p style="font-weight: 400;"><em>Smoking prevalence in Indonesia continues to increase annually, contributing to a higher incidence of smoking-related diseases. One condition associated with smoking is diabetes mellitus, as nicotine interferes with insulin function and may elevate blood glucose levels. Conversely, nicotine can also suppress appetite, potentially leading to hypoglycemia. This study aimed to examine the association between smoking status and random blood glucose levels among employees in Gading Subdistrict, Tambaksari, Surabaya. An analytical observational study with a cross-sectional design was conducted. Primary data were collected using the <strong>Fagerström Test for Nicotine Dependence</strong>&nbsp;and random blood glucose measurement with an&nbsp;Accu-Chek&nbsp;device. Sampling was performed using consecutive sampling, involving 100 respondents. Normality testing was conducted with the Kolmogorov-Smirnov test, and bivariate analysis was performed using Spearman’s rank correlation with a significance level of ≤ 0.05. The results showed a&nbsp;p-value&nbsp;of 0.004 and a correlation coefficient of 0.28, indicating a positive and moderate relationship between smoking status and random blood glucose levels. These findings suggest that smoking behavior contributes to increased blood glucose levels among employees in Gading Subdistrict. The study highlights the importance of smoking cessation programs and workplace health interventions to reduce the metabolic risks associated with smoking.</em></p> Winnie Santosa Anita Dahliana Dwi Martha Nur Aditya Sajuni Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-08-22 2026-08-22 8 02 1626 1630 10.31970/ma.v8i02.469 PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG CUCI HIDUNG DALAM MENJAGA KESEHATAN SALURAN PERNAPASAN BAGIAN ATAS PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA http://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/471 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Cuci hidung dengan larutan salin merupakan tindakan sederhana yang berpotensi membantu menjaga kebersihan rongga hidung dan kesehatan saluran pernapasan bagian atas. Namun, pemahaman remaja mengenai manfaat, mekanisme, dan pelaksanaannya belum tentu merata. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap remaja tentang cuci hidung dalam menjaga kesehatan saluran pernapasan bagian atas pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan metode survei. Sampel berjumlah 299 mahasiswa usia 18-21 tahun yang dipilih menggunakan simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner pengetahuan dan sikap, kemudian dianalisis secara univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Responden terbanyak berusia 18 tahun (35,1%). Tingkat pengetahuan responden paling banyak berada pada kategori cukup sebanyak 169 orang (56,5%), diikuti kategori baik 112 orang (37,5%) dan kurang 18 orang (6,0%). Sikap responden hampir seluruhnya berada pada kategori baik sebanyak 295 orang (98,7%). Mahasiswa memiliki sikap sangat positif terhadap cuci hidung, tetapi pengetahuan masih dominan pada kategori cukup sehingga diperlukan penguatan edukasi teknis.</p> <p><em><strong>ABSTRACT</strong></em></p> <p><em><span lang="EN-US">Nasal irrigation with saline solution is a simple practice that may help maintain nasal hygiene and upper respiratory tract health. However, adolescents may have uneven understanding of its benefits, mechanisms, and correct implementation. This study aimed to describe adolescents’ knowledge and attitudes toward nasal irrigation for maintaining upper respiratory tract health among medical students at Universitas Muslim Indonesia. This research used a quantitative descriptive design with a survey method. A total of 299 students aged 18-21 years were selected using simple random sampling. Data were collected using a knowledge and attitude questionnaire and analyzed univariately as frequency and percentage distributions. Most respondents were 18 years old (35.1%). Knowledge was most frequently categorized as sufficient among 169 respondents (56.5%), followed by good among 112 respondents (37.5%) and poor among 18 respondents (6.0%). Attitudes were predominantly good among 295 respondents (98.7%), while only 4 respondents (1.3%) had a sufficient attitude category. Medical students showed highly positive attitudes toward nasal irrigation, but their knowledge remained predominantly sufficient, indicating the need for more structured technical education.</span></em></p> Nasya Salsabilah Andi Tenri Sana Arifuddin Rezky Pratiwi L. Basri Ahmad Ardhani Pratama Reza Zainal Abidin Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-08-22 2026-08-22 8 02 1631 1637 10.31970/ma.v8i02.471 EKLAMPSIA: PROFIL KASUS DI RUMAH SAKIT REGIONAL SULAWESI TENGAH http://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/472 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><span lang="EN-US">Eklampsia adalah komplikasi obstetri yang mengancam jiwa, ditandai oleh terjadinya kejang tonik-klonik pada wanita hamil atau pasca persalinan tanpa penyebab neurologis lain. Eklampsia berkontribusi signifikan terhadap angka kematian ibu dan prenatal, terutama di negara berpenghasilan rendah hingga sedang. tujuan penelitian untuk mendeskripsikan profil klinis, penatalaksanaan, luaran dari lima kasus eklampsia yang ditangani di beberapa rumah sakit regional di Sulawesi Tengah, serta menyoroti variasi klinis dan tantangan diagnostik/terapeutik. Laporan kasus deskriptif pada lima pasien primigravida, usia muda dengan kontrol antenatal yang tidak lengkap. Informasi diambil dari rekam medis meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik, temuan laboratorium, penatalaksanaan (magnesium sulfat dan antihipertensi), cara dan waktu persalinan, serta luaran ibu dan bayi. Seluruh pasien mengalami hipertensi; sebagian melaporkan gejala prodromal (sakit kepala, gangguan penglihatan, nyeri epigastrium). </span><span lang="FI">Tiga pasien mengalami kejang, satu pasien datang dalam kondisi koma, dan satu pasien mengalami eklampsia pascapersalinan. Penatalaksanaan utama meliputi magnesium sulfat, obat antihipertensi dan persalinan secara pervaginam atau operasi. Luaran ibu umumnya baik; terdapat satu bayi dengan henti jantung dan satu bayi dengan asfiksia. Usia muda, status primigravida, dan kontrol antenatal yang suboptimal merupakan faktor risiko utama. Penanganan cepat dan multidisiplin dengan kontrol kejang, pengendalian tekanan darah, serta persalinan tepat waktu penting untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas.</span></p> <p><em><strong>ABSTRACT</strong></em></p> <p><em>Eclampsia is a life-threatening obstetric complication characterized by generalized tonic–clonic seizures in pregnant or postpartum women in the absence of other neurologic causes. It remains a major contributor to maternal and perinatal mortality, particularly in low- and middle-income settings. The objective of the study is to describe the clinical profiles, management, and outcomes of five eclampsia cases treated at several regional hospitals in Central Sulawesi, highlighting clinical variation and diagnostic/therapeutic challenges. A Descriptive case series of five young primigravid patients with incomplete antenatal care. Data were extracted from medical records including history, physical examination, laboratory findings, management (magnesium sulfate and antihypertensives), mode and timing of delivery, and maternal–infant outcomes. All patients were hypertensive; most reported prodromal symptoms (headache, visual disturbance, epigastric pain). Three patients had seizures, one presented in coma, and one had postpartum eclampsia. Primary management included magnesium sulfate, antihypertensives, and delivery via vaginal birth or cesarean section. Maternal outcomes were generally good; one neonate experienced cardiac arrest and one had asphyxia. Young age, primigravida status, and suboptimal antenatal care were key risk factors. Prompt, multidisciplinary care with seizure control, blood pressure management, and timely delivery is critical to reduce morbidity and mortality.</em></p> I Putu Fery Immannuel White John Johannes Ezechiel Wantania Amalia Syafrida Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-08-22 2026-08-22 8 02 1638 1645 10.31970/ma.v8i02.472 A PROFILE ANALYSIS AND MEDICOLEGAL ASPECTS OF FORENSIC DOCTORS IN PATIENTS UNDERGOING KIDNEY TRANSPLANTATION AT DR. SARDJITO GENERAL HOSPITAL IN 2024 http://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/474 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><span lang="IN">Transplantasi ginjal merupakan prosedur medis yang penting untuk menggantikan ginjal yang mengalami kerusakan atau gagal fungsi dengan ginjal yang sehat dari donor. Transplantasi ginjal memberikan harapan hidup yang lebih baik dan kualitas hidup yang meningkat dibandingkan metode lain seperti cuci darah. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan profil demografis dan karakteristik pasien yang menjalani transplantasi ginjal di RSUP Dr. Sardjito pada tahun 2024, dengan mempertimbangkan aspek medikolegal yang terkait. Metode yang digunakan adalah deskriptif observasional retrospektif dengan data yang diperoleh dari dokumentasi medis pasien. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas pasien adalah laki-laki (25 dari 33 responden) dengan rentang usia dominan 30-40 tahun. Tingkat pendidikan yang paling umum adalah lulusan sarjana (S1), dan pekerjaan terbanyak adalah wiraswasta dan karyawan swasta. </span><span lang="EN-US">Hubungan sosial yang paling sering tercatat adalah hubungan dengan atasan kerja. Sebagian besar pasien didiagnosis dengan Chronic Kidney Disease (CKD), dan hanya sebagian kecil yang mengalami kanker ginjal. Penelitian ini memberikan gambaran menyeluruh yang dapat menjadi dasar pengambilan keputusan klinis dan kebijakan terkait transplantasi ginjal. Regulasi dan aturan hukum tentang transplantasi ginjal di Indonesia baik dari Undang-Undang Nomor 17 tahun 2023, Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2021, Permenkes Nomor 38 tahun 2016, serta Permenkes Nomor 37 tahun 2014. Peran dokter spesialis forensik dan medikolegal dalam pelaksanaan transplantasi ginjal di fasilitas kesehatan menurut Permenkes Nomor 38 Tahun 2022.</span></p> <p><em><strong>ABSTRACT</strong></em></p> <p><em>Kidney transplantation is an essential medical procedure to replace a damaged or non-functioning kidney with a healthy one from a donor. It offers better life expectancy and improved quality of life compared to other treatments such as dialysis. This study aims to describe the demographic profile and characteristics of patients undergoing kidney transplantation at RSUP Dr. Sardjito in 2024, taking into account the associated medico-legal aspects. The method used was a retrospective observational descriptive design, with data obtained from patient medical records. The results show that the majority of patients were male (25 out of 33 respondents), with the dominant age range being 30–40 years. The most common level of education was bachelor’s degree (S1), and the most frequent occupations were self-employed individuals and private employees. The most frequently recorded social relationship was with work supervisors. Most patients were diagnosed with chronic kidney disease (CKD), while only a small number had kidney cancer. This study provides a comprehensive overview that can serve as a basis for clinical decision-making and policy development regarding kidney transplantation. Legal regulations on kidney transplantation in Indonesia are governed by Law Number 17 of 2023, Government Regulation Number 53 of 2021, Ministry of Health Regulation (Permenkes) Number 38 of 2016, and Ministry of Health Regulation (Permenkes) Number 37 of 2014. According to Ministry of Health Regulation (Permenkes) Number 38 of 2022, forensic and medico-legal specialist doctors play a role in the implementation of kidney transplantation in healthcare facilities.</em></p> Dimas Maulana Agustian Martiana Suciningtyas Tri Artanti Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-08-22 2026-08-22 8 02 1646 1652 10.31970/ma.v8i02.474 DAMPAK PROSEDUR TIMPANOMASTOIDEKTOMI TERHADAP TINGKAT GANGGUAN PENDENGARAN PADA PASIEN OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK http://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/487 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Otitis media supuratif kronik (OMSK) merupakan kondisi inflamasi persisten pada kavum timpani yang ditandai oleh perforasi membran timpani dan keluarnya sekret dari liang telinga selama lebih dari tiga bulan. Kondisi ini secara bermakna memengaruhi kualitas pendengaran penderitanya. Prosedur timpanomastoidektomi dikerjakan dengan tujuan utama untuk menutup perforasi membran timpani serta memulihkan fungsi pendengaran yang terganggu. Tujuan penulisan adalah untuk menganalisis dampak prosedur timpanomastoidektomi terhadap perubahan derajat gangguan pendengaran pada penderita OMSK. Penelitian ini menggunakan desain <em>deskriptif analitik</em> dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Data diperoleh dari rekam medik 30 pasien OMSK yang menjalani operasi timpanomastoidektomi di RSUD Undata Palu selama periode 2016 hingga 2018.Hasil dari penelitian didapatkan nilai rata-rata ambang pendengaran sebelum intervensi bedah tercatat sebesar 56,70 dB, sedangkan pasca-operasi menurun menjadi 50,50 dB. Uji statistik <em>Wilcoxon</em> menghasilkan nilai <em>p</em> = 0,000 (p &lt; 0,05), yang menunjukkan perbedaan bermakna antara derajat gangguan pendengaran sebelum dan sesudah tindakan. Prosedur timpanomastoidektomi terbukti memberikan dampak yang bermakna secara klinis dan statistik dalam menurunkan derajat gangguan pendengaran penderita OMSK di RSUD Undata Palu tahun 2016–2018.</p> <p><em><strong>ABSTRACT</strong></em><br><em>Chronic suppurative otitis media (CSOM) is a persistent inflammatory condition of the middle ear characterised by tympanic membrane perforation and otorrhea lasting more than three months. The condition substantially impairs auditory function. Tympanomastoidectomy is performed with the primary objectives of closing the tympanic membrane perforation and restoring impaired hearing.</em> <em>To evaluate the impact of tympanomastoidectomy on the degree of hearing loss in patients with CSOM.</em> <em>This study employed a descriptive analytic design with a cross-sectional approach. Data were retrieved from the medical records of 30 CSOM patients who underwent tympanomastoidectomy at Undata Regional Hospital, Palu, between 2016 and 2018.</em> <em>The mean hearing threshold before surgery was 56.70 dB, which decreased to 50.50 dB postoperatively. Wilcoxon signed-rank test yielded p = 0.000 (p &lt; 0.05), indicating a statistically significant difference in hearing loss degree before and after surgery.</em> <em>Tympanomastoidectomy produced a clinically and statistically significant reduction in the degree of hearing impairment among CSOM patients at Undata Hospital Palu 2016–2018.</em></p> Christin Rony Nayoan Mishail Rayyan Wiking Zeth Ria Sulistiana Rahma Andi Alfia Mutmainnah Tanra Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-08-22 2026-08-22 8 02 1653 1660 10.31970/ma.v8i02.487 HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN KEJADIAN KEKURANGAN ENERGI KRONIK PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BIROBULI http://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/491 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kekurangan Energi Kronik (KEK) merupakan kondisi defisit asupan energi yang berlangsung dalam jangka panjang dan berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan, khususnya pada kehamilan. Pada ibu hamil, KEK meningkatkan risiko terjadinya komplikasi yang dapat merugikan kesehatan ibu dan perkembangan janin. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keterkaitan antara tingkat pengetahuan dan sikap ibu hamil dengan kejadian KEK di wilayah kerja Puskesmas Birobuli, Kota Palu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 30 ibu hamil yang dipilih melalui teknik purposive sampling sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Data dikumpulkan melalui angket untuk menilai tingkat pengetahuan dan sikap peserta, sementara status KEK ditentukan dengan pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA). Hubungan antarvariabel dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan taraf signifikansi 5%. Analisis memperlihatkan adanya keterkaitan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu hamil dan kejadian KEK (p = 0,002). Selain itu, sikap ibu hamil juga terbukti berpengaruh secara bermakna terhadap kejadian KEK dengan nilai p = 0,003. Tingkat pemahaman dan pola sikap pada ibu hamil terbukti berkaitan dengan kejadian Kekurangan Energi Kronik. Peningkatan intervensi edukasi gizi kehamilan diharapkan dapat meningkatkan wawasan dan menginternalisasi sikap yang mendukung perilaku nutrisi baik, sehingga berpotensi menurunkan risiko KEK pada ibu hamil.</p> <p><em><strong>ABSTRACT</strong></em></p> <p><em><span lang="id">C</span><span lang="id">hronic Energy Deficiency (CED) is a nutritional condition characterized by prolonged inadequate energy intake, which may lead to various health problems, particularly during pregnancy. Among pregnant women, CED increases the risk of pregnancy-related complications that can adversely affect both maternal health and fetal development. This study aimed to examine the association between pregnant women's knowledge and attitudes and the incidence of Chronic Energy Deficiency (CED) in the working area of the Birobuli Public Health Center, Palu City. This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design. A total of 30 pregnant women were selected using a purposive sampling technique based on predetermined inclusion criteria. Data were collected using a structured questionnaire to assess participants' levels of knowledge and attitudes, while Chronic Energy Deficiency (CED) status was determined through Mid-Upper Arm Circumference (MUAC) measurements. The association between the study variables was analyzed using the Chi-square test with a significance level of 5%.</span> <span lang="id">The analysis </span><span lang="EN-US">result </span><span lang="id">revealed a significant association between pregnant women's level of knowledge and the incidence of Chronic Energy Deficiency (CED) (p = 0.002). In addition, maternal attitude was also found to be significantly associated with the occurrence of CED (p = 0.003).</span><span lang="EN-US"> In conclusion </span><span lang="id">Pregnant women's level of knowledge and attitudes were significantly associated with the incidence of Chronic Energy Deficiency (CED). Strengthening nutrition education interventions during pregnancy is expected to enhance maternal knowledge and foster positive attitudes toward healthy nutritional practices, thereby reducing the risk of CED among pregnant women.</span></em></p> Hayati Palesa Badariati Bahtiar Nurlaela R Andi Mariani Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-08-22 2026-08-22 8 02 1661 1670 10.31970/ma.v8i02.491 LITERATURE REVIEW : BAWANG PUTIH (ALLIUM SATIVUM) SEBAGAI INTERVENSI HERBAL TRADISIONAL DALAM POTENSI PENURUNAN TEKANAN DARAH DI MASYARAKAT http://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/493 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, stroke, dan penyakit ginjal kronik. Selain terapi farmakologis, bawang putih (<em>Allium sativum</em>) banyak diteliti sebagai terapi komplementer karena kandungan senyawa bioaktifnya yang berpotensi menurunkan tekanan darah melalui efek vasodilatasi, antioksidan, dan penghambatan <em>angiotensin-converting enzyme</em> (ACE). Penelitian ini bertujuan mengkaji efektivitas bawang putih dalam menurunkan tekanan darah berdasarkan bukti ilmiah terkini. Penelitian ini merupakan literature review dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Penelusuran literatur dilakukan pada PubMed, Google Scholar, ScienceDirect, SpringerLink, Frontiers, SINTA, dan Garuda terhadap artikel yang dipublikasikan tahun 2023–2026 sesuai kriteria inklusi. Sebanyak 29 artikel memenuhi kriteria. Hasil telaah menunjukkan bahwa bawang putih berpotensi menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi melalui berbagai mekanisme biologis, dengan bukti paling kuat berasal dari penelitian aged garlic extract. Kesimpulannya ialah bawang putih (Allium sativum) berpotensi sebagai terapi komplementer dalam pengendalian hipertensi, namun tidak menggantikan terapi antihipertensi standar. Penelitian lebih lanjut dengan desain yang lebih kuat masih diperlukan untuk mengonfirmasi efektivitas dan keamanan penggunaan jangka panjang.</p> <p><em><strong>ABSTRACT</strong></em></p> <p><em><span lang="IN">Hypertension is a major public health problem that increases the risk of cardiovascular disease, stroke, and chronic kidney disease. In addition to pharmacological treatment, garlic (Allium sativum) has been widely investigated as a complementary therapy due to its bioactive compounds, which may lower blood pressure through vasodilatory, antioxidant, and angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitory effects. This study aimed to review the effectiveness of garlic in reducing blood pressure based on the latest scientific evidence. This study employed a qualitative descriptive literature review. Literature was searched in PubMed, Google Scholar, ScienceDirect, SpringerLink, Frontiers, SINTA, and Garuda, including articles published between 2023 and 2026 that met the predefined inclusion criteria. A total of 29 articles were included in the review. The findings indicate that garlic has the potential to reduce blood pressure in patients with hypertension through multiple biological mechanisms, with the strongest evidence derived from studies using aged garlic extract. In conclusion, Allium sativum shows promise as a complementary therapy for hypertension management; however, it should not replace standard antihypertensive treatment. Further high-quality studies are needed to confirm its long-term efficacy and safety.</span></em></p> Sri Rahayu Jamaluddin Rachmat Faisal Syamsu Sultan M. Al Fatih Watif Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-08-22 2026-08-22 8 02 1671 1685 10.31970/ma.v8i02.493 GAMBARAN PERLUKAAN KEPALA KORBAN KECELAKAAN LALU LINTAS BERDASARKAN DATA HDSS SLEMAN 2019 DAN 2021 http://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/504 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu penyebab utama cedera dan kematian di dunia. WHO mencatat peningkatan jumlah kematian akibat kecelakaan lalu lintas dari 1,15 juta menjadi 1,35 juta jiwa pada tahun 2018. Cedera kepala menjadi salah satu cedera yang paling sering terjadi, terutama pada pengendara sepeda motor tanpa perlindungan kepala standar. Kabupaten Sleman sebagai wilayah dengan mobilitas tinggi memiliki risiko besar terhadap kejadian cedera kepala. Tujuan penelitian ini Untuk mengetahui gambaran perlukaan pada kepala korban kecelakaan lalu lintas berdasarkan data <em>Health and Demographic Surveillance</em> System (HDSS) Sleman tahun 2019 dan 2021. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan <em>cross sectional</em> <strong>&nbsp;</strong>menggunakan data sekunder dari HDSS kabupaten Sleman tahun 2019 dan 2021. Analisis dilakukan secara univariat untuk menggambarkan karakteristik responden dan bivariat menggunakan uji <em>chi-square </em>untuk melihat hubungan antar variabel seperti usia, jenis kelamin, tempat kejadian perkara, tipe cedera, dan pola perlukaan. Hasil penelitian ini didapatkan 102 responden, Sebagian besar berjenis kelamin laki-laki (58%) dan berusia 19-59 tahun. Kejadian lebih banyak ditemukan pada tahun 2019 (55%). Tipe cedera terbanyak adalah cedera tumpul (52%), diikuti cedera tajam (48%). Derajat luka didominasi perlukaan sedang (47%). Sepeda motor merupakan kendaraan yang paling sering terlibat (78%), dan lokasi kejadian terbanyak berada di wilayah urban (80%). Uji <em>chi-square </em>menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara usia, jenis kelamin, maupun lokasi kejadian dengan tipe cedera maupun pola perlukaan (p&gt;0,05). Cedera kepala akibat kecelakaan lalu lintas di Sleman lebih banyak terjadi pada laki-laki usia produktif dengan tipe cedera tumpul dan derajat perlukaan sedang. Tidak ditemukan hubungan signifikan antara variabel demografis dan pola perlukaan, namun terdapat kecenderungan peningkatan proporsi cedera tajam pada kelompok usia lebih tua. Temuan ini menegaskan pentingnya penggunaan alat pelindung diri dan peningkatan keselamatan berkendara, terutama di wilayah urban.</p> <p><em><strong>ABSTRACT</strong></em></p> <p><em><span lang="EN-US">Traffic accidents are one of the leading causes of injury and death worldwide. The World Health organization (WHO) recorded an increase in traffic related deaths from 1.15 million to 1.35 million in 2018. Head injury is among the most common types of trauma, particularly in motorcycle riders who not use standard protective headgear. Sleman Regency, as an area with high mobility, has a substantial risk of head injury occurrences. This study aimed to describe the pattern of head injuries among traffic accident victims based on data from the Health and Demographic Surveillance System (HDSS) Sleman in 2019 and 2021. This research employed an analytical observational method with a cross-sectional describe respondent characteristics, and bivariate analysis with the chi-square test was conducted to assess the relationship between variables such as age, sex, crash location, injury type, and injury pattern. A total of 102 respondents were identified, with the majority being male (58%) and aged 19-59 years. Most cases occurred in 2019 (55%). The most common injury type was blunt injury (52%), followed by sharp injury (48%). Moderate injuries dominated the severity category 47%). Motorcycles were the most frequently involved vehicles (78%), and most incidents occurred in urban areas (80%). The chi-square test indicated no significant relationship between age, sex, or crash location and injury type or injury pattern (p&gt;0.05). head injuries from traffic accidents in Sleman were more common among males of productive age, with blunt injury and moderate severity being the most frequent findings. Although no significant associations were found between demographic variables and injury patterns, an increasing proportion of sharp injuries was observed in older age group. These findings highlight the importance of using protective equipment and strengthening road safety measures, particularly in high mobility urban areas.</span></em></p> Anggriani Prasetia Ningsih Martiana Suciningtyas Tri Artanti Idha Arfianti Wiraagni Dewanto Yusuf Priyambodo Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-08-22 2026-08-22 8 02 1686 1698 10.31970/ma.v8i02.504 GUT MICROBIOTA METABOLITE PROFILES IN THIRD-TRIMESTER PREGNANT WOMEN AND INFANTS FOR DIABETES MELLITUS BIOMARKER EXPLORATION: A NARRATIVE REVIEW http://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/507 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><span lang="FI">Diabetes melitus merupakan beban kesehatan global yang terus meningkat. Masa kehamilan trimester ketiga dan masa bayi merupakan jendela kritis pemrograman metabolik, dan mikrobiota usus beserta metabolitnya diduga berperan dalam gangguan metabolisme glukosa. Tinjauan ini bertujuan mengeksplorasi bukti terkini mengenai profil metabolit mikrobiota usus pada ibu hamil trimester ketiga dan bayi, serta potensinya sebagai biomarker DM. Penelusuran literatur dilakukan pada <em>PubMed, Scopus, EBSCOhost, </em>dan<em> Google Scholar</em> (2012–2025) menggunakan kata kunci terkait mikrobiota usus, metabolomik, kehamilan trimester ketiga, bayi, dan diabetes melitus.&nbsp; Perubahan komposisi mikrobiota usus pada trimester ketiga dikaitkan dengan resistensi insulin fisiologis dan, pada sebagian ibu, dengan diabetes melitus gestasional. Penurunan <em>Akkermansia muciniphila</em> dan <em>Faecalibacterium prausnitzii</em> serta perubahan metabolit seperti asam lemak rantai pendek, asam amino rantai cabang, trimetilamina N-oksida, dan asam empedu dilaporkan pada DMG. Mikrobiota ibu berperan dalam kolonisasi usus bayi, dan disbiosis awal kehidupan berhubungan dengan risiko gangguan metabolik di kemudian hari. Metabolit turunan mikrobiota usus ibu-bayi menjanjikan sebagai biomarker deteksi dini DM, tetapi diperlukan studi kohort prospektif berskala besar, standardisasi platform metabolomik, serta studi kausal sebelum aplikasi klinis.</span></p> <p><em><strong>ABSTRACT</strong></em></p> <p><em>Diabetes mellitus is a growing global health burden. The third trimester of pregnancy and infancy are critical windows of metabolic programming, and gut microbiota with their metabolites are proposed to play a role in glucose metabolism disturbances. This review aimed to explore current evidence on gut microbiota metabolite profiles in third-trimester pregnant women and infants, and their potential as DM biomarkers. &nbsp;A literature search was performed in PubMed, Scopus, EBSCOhost, and Google Scholar (2012–2025) using keywords related to gut microbiota, metabolomics, third-trimester pregnancy, infants, and diabetes mellitus. Gut microbiota compositional shifts in the third trimester have been linked to physiological insulin resistance and, in some women, to gestational diabetes mellitus. Depletion of Akkermansia muciniphila and Faecalibacterium prausnitzii, together with altered metabolites, including short-chain fatty acids, branched-chain amino acids), trimethylamine N-oxide, and bile acids, has been reported in GDM. Maternal microbiota contributes to infant gut colonization, and early-life dysbiosis has been associated with later metabolic risk.&nbsp;Gut microbiota-derived metabolites in mother–infant dyads are promising for early DM biomarker discovery, but large prospective cohorts, metabolomics standardization, and causal studies are required before clinical application.</em></p> Mudyawati Kamaruddin Afra Anisah Purwadi Mifta Nailur Rusyda Priscindy Nazrani Wila Nurisyah Ratnasari Dewi Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-08-22 2026-08-22 8 02 1699 1709 10.31970/ma.v8i02.507 HUBUNGAN STRES AKADEMIK DAN MANAJEMEN STRES TERHADAP CAPAIAN NILAI UJIAN FINAL BLOK MAHASISWA PREKLINIK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ALKHAIRAAT PALU http://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/508 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Stres akademik merupakan kondisi yang sering dialami mahasiswa kedokteran akibat tingginya beban belajar, tuntutan akademik, dan frekuensi evaluasi yang padat. Selain itu, kemampuan dalam mengelola stres melalui strategi <em>coping </em>diduga turut memengaruhi capaian akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan stres akademik dan manajemen stres terhadap capaian nilai ujian final blok pada mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat Palu. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif observasional analitik dengan desain <em>cross-sectional </em>dengan dua kali pengukuran, yaitu sebelum dan sesudah ujian final blok. Sampel penelitian berjumlah 152 mahasiswa preklinik yang dipilih sesuai kriteria penelitian. Pengukuran stres akademik diukur menggunakan kuesioner <em>Medical Student Stress Questionnaire </em>(MSSQ), sedangkan manajemen stres diukur menggunakan <em>Brief COPE</em>. Data dianalisis menggunakan uji korelasi <em>Spearman</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh domain stres akademik dan manajemen stres tidak memiliki hubungan bermakna secara statistik terhadap capaian nilai ujian final blok (<em>p </em>&gt; 0,05). Mayoritas mahasiswa memiliki capaian nilai ujian final blok dalam kategori rendah (48,7%) dan cenderung menggunakan strategi <em>dysfunctional coping </em>(82,9%). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara stres akademik dan manajemen stres dengan capaiab nilai ujian final blok pada mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat Palu. Temuan ini mengindikasikan bahwa capaian akademik mahasiswa kemungkinan dipengaruhi oleh berbagai faktor lain di luar stres akademik dan manajemen stres.</p> <p><em><strong>ABSTRACT</strong></em></p> <p><em><span lang="id">Academic stress is a common condition experienced by medical students due to the heavy academic workload, demanding learning requirements, and frequent evaluations. In addition, students' ability to manage stress through coping strategies is believed to influence their academic performance. This study aimed to determine the relationship between academic stress and stressmanagement and final block examination scores among preclinical students at the Faculty of Medicine, Alkhairaat University, Palu. This study employed a quantitative analytical observational approach using a cross-sectional design with two measurements conducted before and after the final block examination. The study included 152 preclinical medical students who met the inclusion criteria. Academic stress was assessed using the Medical Student Stress Questionnaire (MSSQ), while stress management was evaluated using the Brief COPE questionnaire. Data were analyzed using the Spearman correlation test. The findings indicated that none of the domains of academic stress or stress management showed a statistically significant relationship with final block examination scores (</span><span lang="id">p &gt; 0.05). Nearly half of the participants (48.7%) achieved low final block examination scores, and the majority of students (82.9%) tended to adopt dysfunctional coping strategies. This study found no significant relationship between academic stress, stress management, and final block examination scores among preclinical students at the Faculty of Medicine, Alkhairaat University, Palu. These findings suggest that students' academic performance may be influenced by various factors other than academic stress and stress management.</span></em></p> Sarpia R. Nei Muh. Idham Rahman Misriyani Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-08-23 2026-08-23 8 02 1710 1716 10.31970/ma.v8i02.508