http://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/issue/feedMedika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan2026-04-07T20:06:10+07:00Misriyanimisriyani85@gmail.comOpen Journal Systems<p><strong>Medika Alkhairaat : Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan</strong> published by Faculty of Medicine, Alkhairaat University is a peer-reviewed scientific journal dedicated to publishing good quality of research work in all areas of medical sciences.</p>http://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/361IMPENDING RESPIRATORY FAILURE, BRONKOPNEUMONIA DAN PERTUSIS MALIGNANT PADA BAYI USIA 1 BULAN 16 HARI: SEBUAH LAPORAN KASUS2026-04-07T20:06:05+07:00Thomas Preldho Sabonotomysabono@gmail.comRia R. Sukurtomysabono@gmail.comRifah Z. Soumenatomysabono@gmail.comSri W. Djokotomysabono@gmail.comRahmi M. Ambontomysabono@gmail.comZubaidah Hehanusatomysabono@gmail.com<p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Infeksi saluran napas bawah masih menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak, terutama bayi. Kombinasi bronkopneumonia dengan pertusis malignant dapat memperberat kondisi dan menyebabkan impending respiratory failure yang berpotensi mengancam nyawa. Tujuan: Melaporkan kasus impending respiratory failure, bronkopneumonia dan pertusis malignant pada bayi usia 1 bulan 16 hari yang dirawat di RS Tk II dr. J.A. Latumeten, Ambon. Kasus: Seorang bayi laki-laki 1 bulan 16 hari datang dengan keluhan sesak napas, batuk berdahak, dan demam sejak satu minggu sebelum masuk rumah sakit. Pemeriksaan fisik menunjukkan takipnea (RR 69x/menit), nadi 190x/menit, serta saturasi oksigen 90% dengan udara ruangan. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan leukositosis berat (WBC 98.000 µL), trombositosis (PLT 922.000/µL), anemia (Hb 9,7 g/dL), serta peningkatan neutrofil (79,9%). Diagnosis ditegakkan sebagai impending respiratory failure, bronkopneumonia dan pertusis malignant. Pasien mendapatkan terapi suportif berupa pemberian oksigenasi, cairan intravena, antipiretik, antibiotik, mukolitik, serta terapi tambahan sesuai kondisi klinis. Pada follow-up hari ke-2, demam menghilang tetapi sesak dan batuk berdahak masih menetap, serta status vital tidak stabil. Kesimpulan: impending respiratory, bronkopneumonia dan pertusis malignant memerlukan perhatian yang serius, diagnosis dan penatalaksanaan dini, termasuk pemberian antibiotik serta dukungan ventilasi, sangat penting untuk mencegah perburukan menuju gagal napas sehingga dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas pada bayi.</p> <p><em><strong>ABSTRACT</strong></em></p> <p><em><span lang="EN-GB">Lower respiratory tract infections remain the leading cause of morbidity and mortality in children, especially infants. The combination of bronchopneumonia and malignant pertussis can worsen the condition and cause impending respiratory failure, which can be life-threatening. Objective: To report a case of impending respiratory failure, bronchopneumonia, and malignant pertussis in a 1-month-old infant who was treated at Dr. J.A. Latumeten Hospital, Ambon. Case: A 1-month-old male infant presented with complaints of shortness of breath, cough with phlegm, and fever since one week before admission to the hospital. Physical examination showed tachypnea (RR 69x/minute), pulse 190x/minute, and oxygen saturation of 90% with room air. Laboratory tests showed severe leukocytosis (WBC 98,000 µL), thrombocytosis (PLT 922,000/µL), anemia (Hb 9.7 g/dL), and increased neutrophils (79.9%). The diagnosis was impending respiratory failure, bronchopneumonia, and malignant pertussis. The patient received supportive therapy in the form of oxygenation, intravenous fluids, antipyretics, antibiotics, mucolytics, and additional therapy according to clinical condition. On the second day of follow-up, the fever disappeared but shortness of breath and cough with phlegm persisted, and vital signs remained unstable. Conclusion: Impending respiratory failure, bronchopneumonia, and malignant pertussis require serious attention. Early diagnosis and management, including antibiotic administration and ventilatory support, are crucial to prevent deterioration into respiratory failure, thereby reducing morbidity and mortality rates in infants.</span></em></p>2026-04-07T17:32:54+07:00Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatanhttp://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/383EFEKTIVITAS PENDAFTARAN PASIEN RAWAT JALAN BERBASIS TEKNOLOGI DI RUMAH SAKIT IBNU SINA YW-UMI DALAM PERSPEKTIF MASLAHAH2026-04-07T20:06:06+07:00Syafirah Abu Bakar Yamanisyafirah24062002@gmail.comSuliati P. Amirsuliatip.amir@umi.ac.idIin Widya Ningsihsuliatip.amir@umi.ac.idNasrudin Andi Mappawaresuliatip.amir@umi.ac.idRezky Putri Indrawatisuliatip.amir@umi.ac.idSyamsiah Muhsin Al-Qanussuliatip.amir@umi.ac.id<p style="font-weight: 400;"><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><span style="font-weight: 400;">Studi ini bertujuan menelaah keberhasilan penerapan sistem registrasi atau pendftaran pasien rawat jalan di Rumah Sakit Ibnu Sina YW-UMI. Fokus utama adalah menganalisis kinerja mesin antrian dan pendaftaran daring (<em>online</em>) melalui Mobile JKN, kemudian mengaitkannya dengan prinsip <em>maslahah 'ammah</em> (kesejahteraan sosial) dalam ajaran Islam. Sistem pendaftaran konvensional, yang kerap memicu antrian panjang, waktu tunggu di atas batas standar (lebih dari 60 menit), dan penurunan tingkat kepuasan pasien, menjadi pendorong utama dilakukannya inovasi digital ini. Penerapan teknologi, seperti mesin antrian yang memerlukan verifikasi sidik jari dan pendaftaran daring, merupakan langkah strategis untuk mengatrol efisiensi operasional dan mempererat loyalitas pengguna layanan. Tujuan inti riset ini mencakup tiga hal: (1) Mengukur seberapa efektif kedua metode pendaftaran tersebut dalam praktiknya, (2) Mendeteksi faktor-faktor yang mendukung dan menghambat kelancaran implementasinya, dan (3) Menjelaskan bagaimana sistem tersebut selaras dengan konsep <em>maslahah 'ammah</em>. Secara khusus, penelitian ini juga mengintegrasikan perspektif kode bioetika, yaitu memastikan bahwa sistem baru ini memenuhi prinsip keadilan (justice) dalam akses layanan dan prinsip non-malefisien (tidak merugikan) dengan menghindari dampak negatif (<em>kemudaratan</em>) baru—terutama bagi kelompok seperti lansia atau yang gagap teknologi—serta berlandaskan kriteria syariah untuk kepentingan umum. Luaran yang diharapkan dari penelitian ini meliputi: (1) Wawasan mendalam mengenai kontribusi sistem terhadap pemangkasan durasi tunggu, peningkatan efisiensi administratif, dan kenaikan indeks kepuasan pasien; (2) Data empiris perihal kelebihan dan tantangan teknologi registrasi; serta (3) Bukti yang menjelaskan bahwa sistem ini berkontribusi pada <em>maslahah 'ammah</em>dengan mengurangi <em>harms</em> dan mewujudkan pelayanan yang lebih cepat, adil, dan mudah. Penelitian ini diharapkan dapat menyajikan rekomendasi strategis bagi manajemen Rumah Sakit Ibnu Sina YW-UMI guna mengoptimalkan sistem pelayanan agar adil, efisien, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dan etika pelayanan kesehatan.</span></p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em>This study aims to investigate the success of the outpatient registration system implementation at Ibnu Sina YW-UMI Hospital. The main focus is on analyzing the performance of both queuing machines and online registration via Mobile JKN, subsequently connecting the findings to the principle of maslahah 'ammah (public welfare) within Islamic teachings. The conventional registration method, which frequently caused extensive queues, waiting times exceeding standard limits (over 60 minutes), and a decline in patient satisfaction, served as the primary catalyst for this digital innovation. The adoption of technology, such as fingerprint-verified queuing machines and online registration, is a strategic move to boost operational efficiency and solidify user loyalty. The core objectives of this research encompass three areas: (1) Quantifying the practical effectiveness of these two registration methods, (2) Identifying the factors that facilitate or impede their smooth operation, and (3) Explaining how the system aligns with the maslahah 'ammah concept. Specifically, the research integrates the perspective of bioethical codes, ensuring that the new system adheres to the principles of justice in service access and non-maleficence (do no harm) by preventing new adverse effects (kemudaratan)—especially for vulnerable groups like the elderly or those with low tech literacy—and is based on sharia criteria for the common good.The anticipated outcomes of this study include: (1) Comprehensive insight into the system's contribution to shortening waiting periods, enhancing administrative efficiency, and increasing patient satisfaction rates; (2) Empirical data regarding the strengths and difficulties of the registration technology; and (3) Evidence demonstrating that the system contributes to maslahah 'ammah by mitigating harms and realizing a faster, fairer, and more accessible service. This research is expected to present strategic recommendations to the management of Ibnu Sina YW-UMI Hospital to optimize the service system to be equitable, efficient, and consistent with Islamic values and healthcare ethics.</em></p>2026-04-07T17:33:28+07:00Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatanhttp://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/391EVALUASI PSIKOMETRI SKALA PERSEPSI RISIKO ONLINE2026-04-07T20:06:06+07:00Indahriyati Priskilla Joniindahjoni6@gmail.comMariana Dinah Ch. Lerikindahjoni6@gmail.comMarleny P. Panisindahjoni6@gmail.com<p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi properti psikometris skala Persepsi Risiko Online yang dikemukakan oleh Tomoyuki Kanetsuna, Akihiko Ieshima, da Yuichi Toda. Data dikumpulkan menggunakan survey pada 258 siswa SMA Kristen Mercusuar di Kota Kupang. Properti psikometri yang digunakan meliputi properti psikometris tingkat butir dan properti psikometris tingkat skala. Properti psikometri level butir meliputi daya diskriminasi butir, tingkat kesulitan butir, dan standar deviasi butir. Pada properti psikometris tingkat skala yaitu uji reliabilitas tes-retes dan validitas konstruk dengan menggunakan Confirmatory Factor Analisys dengan aplikasi JASP 0.18.0.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skala Risiko Online memiliki daya diskriminasi, rerata, dan standar deviasi butir yang memuaskan. Pada properti psikometris tingkat skala menunjukkan nilai reliabilitas tes-retest yang baik (p=0.723) dan uji validitas konstrak menunjukkan hasil yang memuaskan dengan hasil Chi-square (x2) = 0.190, RMSEA =0.026, CFI = 0.978, SRMR = 0,046. Jadi dapat disimpulkan skala Persepsi Risiko Online terbukti valid dan reliabel sehingga dapat digunakan</p> <p style="font-weight: 400;"><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em style="font-weight: 400;">This study aims to evaluate the psychometric properties of the Online Risk Perception scale proposed by Tomoyuki Kanetsuna, Akihiko Ieshima, and Yuichi Toda. Data were collected using a survey of 258 students from the Christian Mercusuar High School in Kupang City. The psychometric properties examined include item-level psychometric properties and scale-level psychometric properties. Item-level psychometric properties include item discrimination, difficulty, and standard deviation. At the scale level, psychometric properties include test-retest reliability and construct validity using Confirmatory Factor Analysis with the JASP 0.18.0.0 application. The results indicate that the Online Risk scale has satisfactory item discrimination, mean, and item standard deviation. The scale-level psychometric properties show good test-retest reliability (p=0.723), and the construct validity test yielded satisfactory results with a Chi-square (x²) = 0.190, RMSEA = 0.026, CFI = 0.978, and SRMR = 0.046. Therefore, it can be concluded that the Online Risk Perception scale is valid and reliable, making it suitable for use.</em></p>2026-04-07T17:33:56+07:00Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatanhttp://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/392UJI DAYA HAMBAT TANAMAN HERBAL UBI JALAR UNGU (Ipomoea batatas) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS2026-04-07T20:06:06+07:00Cahaya Indahcayaindah4@gmail.comZulfitriani Murfatzulfitriani.murfat@umi.ac.idYani Sodiqahzulfitriani.murfat@umi.ac.idAmrizal Muchtarzulfitriani.murfat@umi.ac.idAndi Sitti Fahirah Arsalzulfitriani.murfat@umi.ac.id<p style="font-weight: 400;"><strong>ABSTRAK</strong></p> <p style="font-weight: 400;">Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi aktivitas antibakteri ekstrak tanaman herbal ubi jalar ungu (<em>Ipomoea batatas </em>) terhadap <em>Staphylococcus aureus</em> melalui metode broth dilution dilusi cair. Penelitian dilakukan di Laboratorium Penelitian UP3M Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia Makassar dengan desain true experimental post-test. Sampel ekstrak diuji pada lima konsentrasi (5%, 20%, 40%, 60%, dan 80%) untuk menentukan Kadar Hambat Minimum (KHM) dan Kadar Bunuh Minimum (KBM). Hasil pengujian menunjukkan bahwa pada seluruh konsentrasi, media uji tampak jernih dan tidak menunjukkan pertumbuhan bakteri, menandakan kemampuan penghambatan pertumbuhan <em>Staphylococcus aureus</em> bahkan pada konsentrasi terendah (5%). Sementara itu, KBM diperoleh pada konsentrasi 60%, yang ditunjukkan dengan tidak adanya pertumbuhan koloni bakteri pada media <em>Nutrient Agar</em> (NA). Hasil ini mengindikasikan bahwa ekstrak ubi jalar ungu memiliki efektivitas antibakteri yang signifikan dengan aktivitas bakteriostatik pada konsentrasi rendah dan bakterisidal pada konsentrasi tinggi. Kandungan senyawa aktif seperti antosianin, flavonoid, tanin, dan fenolik berperan penting dalam mekanisme penghambatan melalui kerusakan membran sel, gangguan metabolisme, serta inaktivasi enzim bakteri. Dengan demikian, ekstrak ubi jalar ungu berpotensi dikembangkan sebagai agen antibakteri alami untuk terapi infeksi akibat<em> Staphylococcus aureus</em>.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em style="font-weight: 400;">This study aims to identify the antibacterial activity of purple sweet potato (Ipomoea batatas L.) extract against Staphylococcus aureus using the broth dilution method. The experiment was conducted at the UP3M Research Laboratory, Faculty of Medicine, Universitas Muslim Indonesia, Makassar, using a true experimental post-test design. The extract samples were tested at five concentrations (5%, 20%, 40%, 60%, and 80%) to determine the Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Bactericidal Concentration (MBC). The results revealed that all concentrations inhibited bacterial growth, as indicated by clear media after 24-hour incubation at 37°C, demonstrating inhibitory effects even at the lowest concentration (5%). The MBC was observed at 60%, where no bacterial colonies grew on Nutrient Agar (NA). These findings indicate that purple sweet potato extract exhibits strong antibacterial activity, with bacteriostatic effects at low concentrations and bactericidal effects at higher concentrations. The bioactive compounds—anthocyanins, flavonoids, tannins, and phenolics—play crucial roles in disrupting bacterial membranes, interfering with metabolism, and inactivating enzymes. Therefore, purple sweet potato extract has promising potential as a natural antibacterial agent for treating infections caused by Staphylococcus aureus.</em></p>2026-04-07T17:34:24+07:00Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatanhttp://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/394THE COMPARISON OF DEPRESSION LEVELS IN CATARACT PATIENTS WITH AND WITHOUT UNCORRECTED PRESBYOPIA IN SURABAYA BASED ON PHQ-9 SCREENING2026-04-07T20:06:06+07:00Katharina Merry Apriliani Angkawidjajamerryapriliani@staff.ubaya.ac.idSawitri Boengassawitri1973@staff.ubaya.ac.idJose Elliora Roosy Tirto Putris190121004@student.ubaya.ac.idArdyan Wardhanamerryapriliani@staff.ubaya.ac.id<p style="font-weight: 400;"><strong>ABSTRAK</strong></p> <p style="font-weight: 400;">Katarak merupakan penyebab utama gangguan penglihatan pada populasi lansia dengan prevalensi yang tinggi di Indonesia, terutama di Jawa Timur. Selain katarak, pada lansia juga sering ditemukan penurunan daya akomodasi yang mengikuti yaitu presbyopia. Kedua hal tersebut diduga dapat meningkatkan risiko kejadian depresi atau gangguan suasana hati yang berdampak negatif pada kualitas hidup seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan tingkat depresi pada penderita katarak dengan dan tanpa presbyopia yang belum terkoreksi di Surabaya berdasarkan screening PHQ-9. Penelitian ini menggunakan rancangan studi observasional analitik dengan desain cross-sectional menggunakan data sekunder dari kegiatan “Bakti Sosial Pembagian Satu Juta Kacamata.” Data pada penelitian ini terdiri dari 107 data responden penderita katarak yang diperoleh dengan total population sampling dan metode purposive sampling. Data kemudian terbagi ke dalam dua kelompok berdasarkan adanya presbyopia yang belum terkoreksi dan diolah untuk membandingkan derajat depresi yang dialami berdasarkan screening PHQ-9. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 65% penderita mengalami depresi. Namun, tidak terdapat perbedaan tingkat depresi yang signifikan antara kelompok katarak dengan presbyopia yang belum terkoreksi dan tanpa presbyopia yang belum terkoreksi berdasarkan skor screening PHQ-9 (p=0.76). Analisis pengaruh faktor risiko seperti usia, jenis kelamin, riwayat penyakit kronis, riwayat penggunaan NAPZA, alkohol, dan rokok juga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kejadian depresi.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>ABSTRACT</strong></p> <p style="font-weight: 400;"><em>Background: Cataracts are a leading cause of visual impairment in the elderly, with high prevalence in Indonesia, particularly East Java. Presbyopia, a common accommodation disorder in older adults, often accompanies cataracts and may increase depression risk, negatively impacting quality of life. Methods: This analytical observational cross-sectional study used secondary data from the “One Million Glasses Community Service” event in Surabaya on September 24, 2023. A total of 107 cataract patients were sampled using total population and purposive sampling methods, divided into groups with and without uncorrected presbyopia. Depression levels were assessed using the Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9). Data were analyzed using the Mann-Whitney test for PHQ-9 scores and chi-square test for proportions, with a significance threshold of p ≤ 0.05. Results: Overall, 65% of patients experienced depression (PHQ-9 score ≥ 5). No significant difference in depression levels was found between cataract patients with uncorrected presbyopia (median PHQ-9 score: 5, range: 0–9) and without uncorrected presbyopia (median: 5, range: 0–9; p = 0.764). Risk factors (age, gender, chronic diseases, substance use, alcohol, smoking) showed no significant association with depression (p ≥ 0.05). Conclusion: Depression levels were similar in cataract patients with and without uncorrected presbyopia, with both groups exhibiting mild depression. Routine mental health screening is recommended in cataract management programs</em></p>2026-04-07T17:34:49+07:00Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatanhttp://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/396PREVALENSI DRY EYE PADA IBU HAMIL DI RUMAH SAKIT SITTI KHADIJAH 1 MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2026-04-07T20:06:07+07:00Muhammad Fuad Abdullahmuh.fuad1911@gmail.comMarlyanti Nur Rahmamarlyantinurrahma.akib@umi.ac.idMona Nulandamona.nulanda@umi.ac.idRatih Natasha Maharaniratihnatasha.maharani@umi.ac.idZulfikri Khalil Novriansyahzulfikri.khalil.n@umi.ac.id<p style="font-weight: 400;"><strong>ABSTRAK</strong></p> <p style="font-weight: 400;">Dry eye merupakan kelainan multifaktorial pada lapisan air mata yang menyebabkan ketidaknyamanan dan gangguan penglihatan. Perubahan hormon estrogen, progesteron, dan androgen selama kehamilan dapat memengaruhi fisiologi air mata dan memicu dry eye. Penelitian ini bertujuan mengetahui prevalensi dry eye pada ibu hamil dan faktor faktor yang berhubungan dengan kejadiannya di Rumah Sakit Ibu dan Anak Sitti Khadijah 1 Muhammadiyah Makassar.Desain yang digunakan adalah deskriptif <em>cross-sectional</em>. Penelitian ini menggunakan 91 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dari 118 populasi dengan metode pemilihan random sampling. Pengambilan data dilakukan melalui <em>Ocular Surface Disease Index</em> (OSDI) dan rekam medis, kemudian dilakukan analisis data menggunakan aplikasi SPSS. Hasil yang di dapatkan sebagian besar responden berada pada trimester ketiga (60%) dan kelompok usia 20–25 tahun (40%). Prevalensi <em>dry eye</em> dengan derajat sedang mencapai 34%, diikuti derajat ringan 30%, normal 22%, dan berat 14%. Terdapat hubungan signifikan antara usia kehamilan (0,030), usia ibu hamil (0,022), serta kondisi lingkungan berangin (0,005), kering (<0,001), dan ber-AC (<0,001) dengan derajat <em>dry eye.</em> Prevalensi <em>dry eye</em> pada ibu hamil cukup tinggi, terutama pada trimester akhir kehamilan. Faktor usia ibu, usia kehamilan, dan kondisi lingkungan berpengaruh terhadap kejadian <em>dry eye.</em></p> <p style="font-weight: 400;"><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em style="font-weight: 400;">Dry eye is a multifactorial disorder of the tear film that causes discomfort and visual disturbances. Hormonal changes in estrogen, progesterone, and androgen during pregnancy can affect tear film physiology and trigger dry eye. This study aimed to determine the prevalence of dry eye among pregnant women and the factors associated with its occurrence at Sitti Khadijah 1 Muhammadiyah Mother and Child Hospital, Makassar. A descriptive cross-sectional design was applied involving 91 pregnant women selected randomly from a population of 118 who met the inclusion criteria. Data were collected using the Ocular Surface Disease Index (OSDI) questionnaire and medical records, then analyzed using SPSS. Most respondents were in the third trimester (60%) and aged 20–25 years (40%). The prevalence of moderate dry eye was 34%, followed by mild (30%), normal (22%), and severe (14%). Significant associations were found between dry eye severity and gestational age (0,030), maternal age (0,022), and environmental factors wind exposure (0,005), dry air(<0,001), and air conditioning (<0,001). The prevalence of dry eye among pregnant women is relatively high, particularly in the late trimester. Maternal age, gestational age, and environmental conditions influence the occurrence of dry eye</em></p>2026-04-07T17:35:16+07:00Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatanhttp://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/398ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) DENGAN KEJADIAN DERMATOFITOSIS PADA SISWA SEKOLAH BERBASIS ASRAMA 2026-04-07T20:06:07+07:00Amirul Mukmin Irawanamirulmukminn90@gmail.comDian Amelia Abdidianamelia.abdi@umi.ac.idIrmayanti HBdianamelia.abdi@umi.ac.idNurelly Noro Waspododianamelia.abdi@umi.ac.idAndi Sitti Fahirah Arsaldianamelia.abdi@umi.ac.id<p style="font-weight: 400;"><strong>ABSTRAK</strong></p> <p style="font-weight: 400;">Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian dermatofitosis pada siswa sekolah berbasis asrama. Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik observasional dengan desain cross sectional, dilaksanakan di Pondok Pesantren Insan Cendekia Madani, Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan. Populasi penelitian mencakup seluruh santri yang tinggal di asrama dengan jumlah sampel 50 responden menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan observasi, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden telah memiliki PHBS baik, seperti mandi teratur (78%), menjaga kebersihan rambut (92%), dan tidak berbagi barang pribadi (90%). Namun, sebanyak 36% responden masih mengalami gejala dermatofitosis. Uji statistik menunjukkan hubungan signifikan antara kebiasaan mandi (p=0,010) dan kebersihan rambut (p=0,013) dengan kejadian dermatofitosis. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa PHBS berperan penting dalam pencegahan dermatofitosis pada siswa asrama. Peningkatan edukasi dan pengawasan kebersihan diri di lingkungan pesantren diperlukan untuk menekan angka kejadian infeksi jamur kulit.</p> <p style="font-weight: 400;"> </p> <p style="font-weight: 400;"><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em style="font-weight: 400;">This study aims to analyze the relationship between Clean and Healthy Living Behavior (CHLB) and the incidence of dermatophytosis among students in boarding schools. The research employed an analytic observational method with a cross-sectional design, conducted at Insan Cendekia Madani Islamic Boarding School, Pangkajene Kepulauan Regency, South Sulawesi. The study population consisted of all students living in the dormitory, with a total of 50 respondents selected through total sampling. Data were collected using questionnaires and direct observations, then analyzed using the Chi-square test. The results showed that most respondents practiced good CHLB, such as bathing regularly (78%), maintaining hair hygiene (92%), and avoiding sharing personal items (90%). However, 36% of respondents still exhibited symptoms of dermatophytosis. Statistical analysis revealed a significant relationship between bathing habits (p=0.010) and hair cleanliness (p=0.013) with dermatophytosis incidence. The study concludes that Clean and Healthy Living Behavior plays a crucial role in preventing dermatophytosis among boarding school students. Strengthening health education and monitoring personal hygiene in dormitory environments is essential to reduce the prevalence of fungal skin infections.</em></p>2026-04-07T17:35:41+07:00Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatanhttp://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/400HUBUNGAN RIWAYAT HIPEREMESIS GRAVIDARUM DENGAN BERAT BADAN LAHIR BAYI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MAMBORO TAHUN 2024- 2025 2026-04-07T20:06:07+07:00Putri MaharaniPuma.putri010@gmail.comSumarnipuma.putri010@gmail.comElli Yane Bangkelepuma.putri010@gmail.comRahmapuma.putri010@gmail.com<p style="font-weight: 400;"><strong>ABSTRAK</strong></p> <p style="font-weight: 400;">Hiperemesis gravidarum (HG) merupakan mual muntah berlebihan pada awal kehamilan yang dapat menyebabkan dehidrasi, gangguan metabolisme, dan penurunan berat badan ibu. Kondisi ini berpotensi mengganggu asupan nutrisi dan pertumbuhan janin, sehingga meningkatkan risiko bayi berat badan lahir rendah. Di Indonesia, BBLR masih menjadi salah satu penyebab utama kematian neonatal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan riwayat hiperemesis gravidarum dengan berat badan lahir bayi di wilayah kerja Puskesmas Mamboro tahun 2024–2025. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Sampel berjumlah 80 dan dipilih melalui <em>purposive sampling</em>. Data diperoleh dari data sekunder rekam medis dan wawancara responden menggunakan kuesioner yang berisi definisi Windsor dan skor Pregnancy Unique Quantification of Emesis and Nausea (PUQE). Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Dari 35 (43,75%) responden yang memiliki riwayat HG terdapat 15 (42,9%) responden yang melahirkan bayi BBLR. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,000 < 0,05, yang berarti terdapat hubungan signifikan antara riwayat HG dengan berat badan lahir bayi. Ibu yang mengalami HG memiliki risiko lebih tinggi melahirkan bayi dengan BBLR dibandingkan ibu tanpa riwayat HG. Kesimpulan terdapat hubungan riwayat HG dengan berat badan lahir bayi di wilayah kerja Puskesmas Mamboro tahun 2024- 2025.</p> <p style="font-weight: 400;"><em><strong>ABSTRACT</strong></em></p> <p style="font-weight: 400;"><em>Hyperemesis gravidarum (HG) is excessive nausea and vomiting in early pregnancy that can lead to dehydration, metabolic disorders, and maternal weight loss. This condition has the potential to interfere with nutrient intake and fetal growth, thereby increasing the risk of babies born with low at birth. In Indonesia, LBW is still one of the leading causes of neonatal deaths. This study aims to determine the relationship between the history of hyperemesis gravidarum and the birth weight of babies in the working area of the Mamboro Health Center in 2024–2025. This study uses an analytical observational design with a cross sectional approach. The sample totaled 80 and was selected through purposive sampling. Data were obtained from secondary data from medical records and respondents' interviews using questionnaires containing the Windsor definition and the Pregnancy Unique Quantification of Emesis and Nausea (PUQE) score. Data analysis using the Chi-Square test. Of the 35 (43.75%) respondents who had a history of HG, there were 15 (42.9%) respondents who gave birth to LBW babies. The results of the Chi-Square test showed a value of p = 0.000 < 0.05, which means that there is a significant relationship between the history of HG and the birth weight of the baby. Mothers who experience HG have a higher risk of giving birth to babies with LBW than mothers without a history of HG. In conclusion, there is a relationship between HG history and the birth weight of the baby in the working area of the Mamboro Health Center in 2024-2025.</em></p>2026-04-07T17:36:07+07:00Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatanhttp://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/402HUBUNGAN SIKAP DAN KEPERCAYAAN DIRI TERHADAP PERILAKU MEROKOK REMAJA DI KELURAHAN TEUNBAUN 2026-04-07T20:06:07+07:00Yuliana Emma Nawu Nggorongyulianaemma1625@gmail.comMarnimarni@staf.undana.ac.idEryc Z. Haba Bungaeryc.bunga@staf.undana.ac.idChristina R. Nayoanchirstina.nayoan@staf.undana.ac.id<p style="font-weight: 400;"><strong>ABSTRAK</strong></p> <p style="font-weight: 400;">Berdasarkan Global Adult Tobacco Survey (GATS) tahun 2021 di Indonesia, prevalensi merokok pada remaja usia 15–24 tahun menunjukkan bahwa 53,6% laki-laki dan 1,6% perempuan adalah perokok. Data Dinas Kesehatan Provinsi NTT tahun 2022 juga mencatat prevalensi merokok pada remaja sebesar 18,3% (105.597 orang), dan pada periode Januari–Oktober 2023 sebesar 16,9% (107.167 orang) dari total 661.040 remaja yang diskrining. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sikap dan kepercayaan diri dengan perilaku merokok pada remaja di Kelurahan Teunbaun. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional dan melibatkan 65 responden yang dipilih melalui teknik simple random sampling dengan perhitungan rumus Lemeshow. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara sikap (p-value = 0,002) dan kepercayaan diri (p-value = 0,000) dengan perilaku merokok. Remaja dengan sikap yang kurang baik cenderung merokok karena dipengaruhi lingkungan dan persepsi pribadi, sedangkan remaja dengan sikap baik lebih termotivasi untuk tidak merokok. Kepercayaan diri yang tinggi saat merokok juga membuat remaja terdorong mempertahankan kebiasaan tersebut. Berdasarkan wawancara, kemudahan akses rokok, lingkungan yang permisif, dan kurangnya himbauan menjadi faktor utama remaja merokok. Pemerintah diharapkan dapat menjalin kerja sama lintas sektor, termasuk puskesmas dan sekolah, untuk mengadakan kampanye bahaya merokok yang melibatkan remaja secara aktif.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong><em> </em></strong></p> <p style="font-weight: 400;"><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em style="font-weight: 400;">Based on the 2021 Global Adult Tobacco Survey (GATS) in Indonesia, the prevalence of smoking among adolescents aged 15–24 years shows that 53.6% of males and 1.6% of females are smokers. Data from the NTT Provincial Health Office in 2022 also recorded a smoking prevalence among adolescents of 18.3% (105,597 people), and in the period January–October 2023, 16.9% (107,167 people) of a total of 661,040 adolescents screened. This study aims to determine the relationship between attitudes and self-confidence and smoking behavior among adolescents in Teunbaun Village. The study used a quantitative method with a cross-sectional design and involved 65 respondents selected through simple random sampling using the Lemeshow formula. The results showed a significant relationship between attitude (p-value = 0.002) and self-confidence (p-value = 0.000) and smoking behavior. Adolescents with poor attitudes tended to smoke because they were influenced by their environment and personal perceptions, while adolescents with good attitudes were more motivated not to smoke. High self-confidence when smoking also encourages adolescents to maintain this habit. Based on interviews, easy access to cigarettes, a permissive environment, and a lack of warnings are the main factors that cause adolescents to smoke. The government is expected to establish cross-sectoral cooperation, including community health centers and schools, to conduct campaigns on the dangers of smoking that actively involve adolescents.</em></p>2026-04-07T17:36:34+07:00Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatanhttp://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/403KARAKTERISTIK USIA, JENIS KELAMIN, DAN PENGOBATAN PENDERITA DEMAM THYPOID PADA ANAK YANG MENJALANI RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT IBNU SINA PERIODE 20242026-04-07T20:06:07+07:00Ilmi Anggrainy Pratiwi ilmiiilmianggrainy@gmail.comYusriani Mangarengiyusriani.mangarengi@umi.ac.idSidrah Darmayusriani.mangarengi@umi.ac.idAndi Husnia Esayusriani.mangarengi@umi.ac.idSantriani hadiyusriani.mangarengi@umi.ac.id<p style="font-weight: 400;"><strong>ABSTRAK</strong></p> <p style="font-weight: 400;">Demam typhoid merupakan penyakit infeksi bakteri yang disebabkan oleh Salmonella typhi yaitu suatu bakteri gram-negatif.¹ Demam merupakan gejala utama demam typhoid. Demam dengan durasi panjang dapat membahayakan keselamatan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik usia, jenis kelamin, serta jenis pengobatan pada pasien anak penderita demam tifoid yang menjalani rawat inap di Rumah Sakit Ibnu Sina Yw-Umi Makassar periode Januari–Desember 2024. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan data sekunder berupa rekam medis sebanyak 133 pasien anak berusia <18 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus demam tifoid paling banyak terjadi pada bulan Maret (13,5%). Berdasarkan distribusi usia, kelompok usia 1–5 tahun merupakan yang paling dominan (51,1%), diikuti usia 6–10 tahun (34,6%). Pasien laki-laki lebih banyak dibanding perempuan, masing-masing 54,9% dan 45,1%. Terkait terapi, obat yang paling sering digunakan adalah paracetamol (23,3%) dan ceftriaxone (18,8%), disertai pemberian cairan infus dan terapi pendukung lainnya. Hasil ini menunjukkan bahwa demam tifoid pada anak di Kota Makassar masih tinggi terutama pada usia balita, dengan kecenderungan lebih banyak terjadi pada laki-laki serta memerlukan terapi kombinasi antipiretik dan antibiotik.</p> <p style="font-weight: 400;"> </p> <p style="font-weight: 400;"><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em style="font-weight: 400;">Typhoid fever is a bacterial infection caused by Salmonella typhi, a gram-negative bacterium.1 Fever is the main symptom of typhoid fever. Prolonged fever can be life-threatening for children. This study aims to identify the age distribution, gender characteristics, and treatment patterns among pediatric patients with typhoid fever hospitalized at Ibnu Sina YW-UMI Hospital Makassar during January–December 2024. A descriptive design was employed using secondary data from medical records of 133 children under 18 years of age. The findings revealed that typhoid fever cases peaked in March (13.5%). Children aged 1–5 years represented the largest proportion of cases (51.1%), followed by those aged 6–10 years (34.6%). Male patients accounted for a higher proportion than females, with 54.9% and 45.1%, respectively. The most commonly administered treatments were paracetamol (23.3%) and ceftriaxone (18.8%), along with intravenous fluids and other supportive therapies. These results indicate that pediatric typhoid fever remains prevalent in Makassar, especially among young children, with higher incidence in males, and commonly requires combined antipyretic and antibiotic therapy.</em></p>2026-04-07T17:37:05+07:00Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatanhttp://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/411UJI EFEKTIVITAS ANTIHIPERGLIKEMIK EKSTRAK MENIRAN (Phyllanthus niruri L) PADA TIKUS YANG DIINDUKSI DENGAN DEXAMETHASONE2026-04-07T20:06:08+07:00Nur Rahmanurrahma1433@gmail.comIda Royaninurrahma1433@gmail.comNasrudin Andi Mappawarenurrahma1433@gmail.com Prema Hapsarinurrahma1433@gmail.comNur Fadhillah Khalidnurrahma1433@gmail.com<p style="font-weight: 400;"><strong>ABSTRAK</strong></p> <p style="font-weight: 400;">Hiperglikemia merupakan masalah kesehatan global yang memerlukan penanganan efektif. Mengingat tingginya risiko efek samping dan biaya pengobatan konvensional, pencarian alternatif alami menjadi relevan. Tanaman Meniran (<em>Phyllanthus niruri L</em>) telah dikenal karena kandungan flavonoidnya yang berpotensi sebagai antihiperglikemik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan membandingkan efektivitas ekstrak meniran dengan obat standar Metformin dalam menurunkan kadar glukosa darah. Studi ini menggunakan desain <em>experimental pre and post control</em> pada 20 ekor Tikus Putih (<em>Rattus novergicus</em>) yang diinduksi hiperglikemia menggunakan <em>Dexamethasone</em> dosis 0,09 mg/kgBB/hari. Hewan uji dibagi menjadi empat kelompok perlakuan, meliputi kontrol positif Metformin dan tiga variasi dosis ekstrak Meniran (300 mg, 400mg, dan 500mg/kgBB/hari) yang diekstraksi melalui maserasi etanol 96%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Metformin dan ekstrak Meniran efektif menurunkan kadar glukosa darah subjek uji secara signifikan mulai hari ketiga. Yang menarik, ekstrak Meniran terbukti lebih efektif dalam menurunkan kadar glukosa darah dibandingkan Metformin pada hari ketiga, menyimpulkan bahwa ekstrak Meniran (<em>Phyllanthus niruri L</em>) memiliki potensi kuat dan menjanjikan sebagai agen antihiperglikemik alami yang dapat menjadi alternatif pengobatan.</p> <p style="font-weight: 400;"> </p> <p style="font-weight: 400;"><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em style="font-weight: 400;">Hyperglycemia is a global health problem requiring effective management. Given the high risk of side effects and cost of conventional treatment, the search for natural alternatives is relevant. The Meniran plant (Phyllanthus niruri L) is known for its flavonoid content, which has potential as an antihyperglycemic agent. This study aimed to test and compare the effectiveness of Meniran extract with the standard drug Metformin in reducing blood glucose levels. The study employed an experimental pre and post control design on 20 White Rats (Rattus novergicus) whose hyperglycemia was induced using Dexamethasone at a dose of 0.09 mg/kgBW/day. The test animals were divided into four treatment groups, including Metformin positive control and three dose variations of Meniran extract (300mg, 400mg, and 500mg/kgbw) extracted through 96% ethanol maceration. The results showed that both Metformin and Meniran extract were effective in significantly reducing the blood glucose levels of the test subjects starting from the third day. Notably, the Meniran extract proved to be more effective in reducing blood glucose levels than Metformin on the third day, concluding that Meniran extract (Phyllanthus niruri L) has strong and promising potential as a natural antihyperglycemic agent that can be an alternative treatment.</em></p>2026-04-07T17:37:55+07:00Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatanhttp://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/412FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BAYI DI BAWAH LIMA TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEBA2026-04-07T20:06:08+07:00Gusthy Adiputra Ladogusthylado@gmail.comPius Weramanpiusweraman@staf.undana.ac.idTasalina Y.P Gustamtasalinagustam@staf.undana.ac.idYendris K. Syamruthyendris.syamruth@staf.undana.ac.id<p style="font-weight: 400;"><strong>ABSTRAK</strong></p> <p style="font-weight: 400;">Diare merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada balita dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan serta perilaku kesehatan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan ketersediaan air bersih, ketersediaan jamban, pengetahuan ibu, dan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Seba. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan jumlah sampel 94 ibu yang memiliki balita. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner dan observasi kondisi sanitasi rumah tangga. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketersediaan air bersih tidak berhubungan dengan kejadian diare (p=0,258), dan pengetahuan ibu juga tidak berhubungan dengan diare (p= 0,295). Namun, terdapat hubungan signifikan antara ketersediaan jamban dan kejadian diare (p=0,010), di mana balita dari keluarga yang tidak memiliki jamban lebih banyak mengalami diare dibandingkan dengan keluarga yang memiliki jamban. Selain itu, pemberian ASI eksklusif menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kejadian diare (p= 0,041), di mana balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif lebih rentan mengalami diare. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ketersediaan jamban yang layak dan pemberian ASI eksklusif berperan penting dalam mencegah diare pada balita. Edukasi mengenai sanitasi dasar dan praktik pemberian ASI eksklusif perlu ditingkatkan untuk menurunkan risiko diare di masyarakat.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p style="font-weight: 400;"><em>Diarrhea is one of the health problems that often occurs in toddlers and influenced by environmental factors and family health behaviors. This study aims to determine the relationship between the availability of clean water, the availability of toilets, mothers' knowledge, and exclusive breastfeeding with the incidence of diarrhea in toddlers in the working area of the Seba Community Health Center. This study used a cross-sectional design with a sample size of 94 mothers who had toddlers. Data were collected through interviews using questionnaires and observations of household sanitation conditions. Analysis was performed using univariate and bivariate Chi-Square tests. The results showed that the availability of clean water was not associated with the incidence of diarrhea (p=0.258), nor was maternal knowledge (p=0.295). However, there was a significant association between the availability of toilets and the incidence of diarrhea (p=0.010), with toddlers from families without toilets experiencing more diarrhea than those from families with toilets. In addition, exclusive breastfeeding showed a significant relationship with the incidence of diarrhea (p=0.041), where toddlers who did not receive exclusive breastfeeding were more prone to diarrhea.This study concludes that the availability of proper toilets and exclusive breastfeeding play an important role in preventing diarrhea in toddlers. Education on basic sanitation and exclusive breastfeeding practices needs to be improved to reduce the risk of diarrhea in the community.</em></p>2026-04-07T17:38:42+07:00Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatanhttp://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/413PENGARUH ASUPAN GIZI DAN STATUS TEMPAT TINGGAL (INDEKOS DAN NON INDEKOS) TERHADAP SIKLUS MENSTRUASI PADA MAHASISWI UNIVERSITAS TADULAKO2026-04-07T20:06:08+07:00A. Fauziah Ananda Pasinringiandinanda267@gmail.comI Putu Fery Immanuelandinanda267@gmail.comRosa Dwi Wahyuniandinanda267@gmail.comJane Mariem Monepaandinanda267@gmail.com<p style="font-weight: 400;"><strong>ABSTRAK</strong></p> <p style="font-weight: 400;">Siklus menstruasi merupakan indikator penting kesehatan reproduksi perempuan yang dipengaruhi oleh asupan gizi dan lingkungan tempat tinggal. Mahasiswi yang tinggal di indekos berpotensi memiliki pola makan kurang teratur sehingga dapat memengaruhi keseimbangan hormonal dan siklus menstruasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh asupan gizi dan status tempat tinggal (indekos dan non-indekos) terhadap siklus menstruasi pada mahasiswi Universitas Tadulako. Metode yang digunakan Adalah desain analitik kuantitatif observasional dengan pendekatan cross-sectional pada 88 responden yang dipilih melalui purposive sampling. Data diperoleh melalui kuesioner siklus menstruasi dan formulir food recall 3 × 24 jam, kemudian dianalisis dengan uji Spearman Rank, Mann-Whitney, dan regresi logistik ordinal. Mayoritas responden memiliki asupan energi kurang sebesar 90,9%, protein kurang 62,5%, lemak kurang 63,6%, dan karbohidrat kurang 94,3%. Sebanyak 44 responden tinggal di indekos dan 44 responden tinggal di non-indekos. Selain itu, 64,8% responden memiliki siklus menstruasi normal, 22,7% polimenorea, dan 12,5% oligomenorea. Hasil uji bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara asupan energi (p=0,462), protein (p=0,580), lemak (p=0,800), dan karbohidrat (p=0,421), serta status tempat tinggal (p=0,137) dengan siklus menstruasi. Analisis multivariat juga tidak menunjukkan pengaruh signifikan (p>0,05), sehingga tidak ditemukan pengaruh secara signifikan antara asupan gizi dan status tempat tinggal terhadap siklus menstruasi.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em style="font-weight: 400;">The menstrual cycle is an important indicator of women's reproductive health which is influenced by nutritional intake and living environment. Female students who live in boarding houses have the potential to have an irregular diet so that it can affect hormonal balance and menstrual cycles. This study aims to determine the influence of nutritional intake and residence status (boarding houses and non-boarding houses) on the menstrual cycle in female students of Tadulako University. The method used is observational quantitative analytical design with a cross-sectional approach on 88 respondents selected through purposive sampling. Data were obtained through a menstrual cycle questionnaire and a 3 × 24-hour food recall form, then analyzed by Spearman Rank, Mann-Whitney, and ordinal logistic regression tests. The majority of respondents had a lack of energy intake of 90.9%, a lack of protein of 62.5%, a lack of fat 63.6%, and a lack of carbohydrates of 94.3%. A total of 44 respondents lived in boarding houses and 44 respondents lived in non-boarding houses. In addition, 64.8% of respondents had normal menstrual cycles, 22.7% polymenorrhea, and 12.5% oligomenorrhea. The results of the bivariate test showed that there was no significant relationship between energy intake (p=0.462), protein (p=0.580), fat (p=0.800), and carbohydrates (p=0.421), as well as residence status (p=0.137) and menstrual cycle. Multivariate analysis also showed no significant effect (p>0.05), so there is no significant effect was found between nutritional intake and residence status on the menstrual cycle.</em></p>2026-04-07T17:39:10+07:00Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatanhttp://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/418KARAKTERISTIK PASIEN STROKE DI INTENSIVE CARE UNIT (ICU) RUMAH SAKIT IBNU SINA YW-UMI TAHUN 2023-20242026-04-07T20:06:08+07:00Nurjannah Marganita A.U.nurjannahusman6@gmail.comFaisal Sommengfaisal.sommeng@umi.ac.idAchmad Harun Muchsinachmad.harun@umi.ac.idMochammad Erwin Rachmanmochammaderwin.rachman@umi.ac.idDwi Pratiwiendahmaruf123@gmail.com<p style="font-weight: 400;"><strong>ABSTRAK</strong></p> <p style="font-weight: 400;">Stroke merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan serta sering menimbulkan kondisi kritis yang memerlukan perawatan intensif di <em>Intensive Care Unit</em> (ICU). Data lokal mengenai karakteristik pasien stroke yang dirawat di ICU RS Ibnu Sina YW-UMI masih terbatas. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan karakteristik pasien stroke yang menjalani perawatan di ICU RS Ibnu Sina YW-UMI periode 2023–2024. Metode penelitian ini menggunakan kuantitatif observasional deskriptif dengan pendekatan retrospektif menggunakan data sekunder rekam medis. Data meliputi usia, jenis kelamin, suku, indeks massa tubuh (IMT), riwayat hipertensi, diabetes melitus, dislipidemia, riwayat keluarga, atrial fibrilasi, serta jenis stroke. Analisis dilakukan secara univariat dan disajikan sebagai distribusi frekuensi serta persentase. Hasil penelitian menunjukkan dari 30 pasien, kelompok usia terbanyak adalah lansia awal (33,3%) dan lansia akhir (26,7%); pasien laki-laki 60,0%. Riwayat hipertensi ditemukan pada 96,7% pasien, diabetes 20%, dislipidemia 93,3%, dan riwayat keluarga 3,3%. Proporsi stroke hemoragik dan non-hemoragik sama (masing-masing 50%). Mayoritas berasal dari suku Makassar (70%). Data IMT tidak tersedia pada 70% rekam medis. Kesimpulan penelitian ini yaitu pasien stroke ICU didominasi usia lanjut, laki-laki, dengan komorbid hipertensi dan dislipidemia, diperlukan penguatan pencegahan dan pencatatan klinis.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em style="font-weight: 400;">Stroke is a leading cause of death and disability and often results in critical conditions that require intensive care in the Intensive Care Unit (ICU). Local data on the characteristics of stroke patients treated in the ICU at Ibnu Sina YW-UMI Hospital is still limited. The objective of this study was to describe the characteristics of stroke patients treated in the ICU at Ibnu Sina YW-UMI Hospital during the period 2023–2024. This study used a quantitative observational descriptive method with a retrospective approach using secondary medical record data. The data included age, gender, ethnicity, body mass index (BMI), history of hypertension, diabetes mellitus, dyslipidemia, family history, atrial fibrillation, and type of stroke. The analysis was performed univariately and presented as frequency distribution and percentages. The results showed that of the 30 patients, the largest age groups were early elderly (33.3%) and late elderly (26.7%); 60,0 % of patients were male. A history of hypertension was found in 96.7% of patients, diabetes in 20%, dyslipidemia in 93.3%, and family history in 3.3%. The proportion of hemorrhagic and non-hemorrhagic strokes was equal (50% each). The majority came from the Makassar tribe (70%). BMI data are not available on 70% of medical records. The conclusion of this study is that ICU stroke patients are dominated by the elderly, men, with comorbid hypertension and dyslipidemia, it is necessary to strengthen prevention and clinical record.</em></p>2026-04-07T17:39:43+07:00Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatanhttp://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/424Perbandingan PERBANDINGAN KUALITAS PREPARAT SITOPATOLOGI CAIRAN EFUSI PLEURA DENGAN PEWARNAAN GIEMSA DAN PAPANICOLAU 2026-04-07T20:06:09+07:00Janita Aulogia Pamusokjanitaaulogia@gmail.comGina Andyka Hutasoitjanitaaulogia@gmail.comNur Syamsijanitaaulogia@gmail.comRosa Dwi Wahyunijanitaaulogia@gmail.com<p style="font-weight: 400;"><strong>ABSTRAK</strong></p> <p style="font-weight: 400;">Pemeriksaan sitopatologi berperan penting dalam menunjang diagnosis berbagai kondisi patologis, terutama pada kasus efusi pleura, dimana kualitas preparat sangat dipengaruhi oleh metode pewarnaan yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kualitas preparat sitopatologi cairan efusi pleura menggunakan metode pewarnaan giemsa dan papanicolaou. Studi kuantitatif komparatif dengan desain <em>post-test only</em> dilakukan pada 52 sampel efusi pleura yang diperoleh melalui pengambilan sampel total dari pasien yang menjalani torakosentesis di Rumah Sakit Umum Undata Palu, pada Juli 2025. Setiap sampel dipreparasi menggunakan kedua teknik pewarnaan dan dievaluasi berdasarkan morfologi sel, kontras inti, kontras sitoplasma, dan kebersihan latar belakang. Uji Mann–Whitney U menunjukkan perbedaan signifikan antara kedua metode (p < 0,001), yang mengindikasikan bahwa pewarnaan papanicolaou memberikan kontras inti dan sitoplasma yang lebih unggul.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p style="font-weight: 400;"><em>Cytopathological examination plays an important role in supporting the diagnosis of various pathological conditions, particularly in cases of pleural effusion, where the quality of the preparations is greatly influenced by the staining method used. This study aimed to compare the quality of cytopathological preparations of pleural effusion fluid using giemsa and papanicolaou staining methods. A comparative quantitative study with a post-test only design was conducted on 52 pleural effusion samples obtained through total sampling from patients undergoing thoracentesis at Undata General Hospital Palu, in July 2025. Each sample was prepared using both staining techniques and evaluated based on cell morphology, nuclear contrast, cytoplasmic contrast, and background cleanliness. The Mann–Whitney U test showed a significant difference between the two methods (p < 0.001), indicating that papanicolaou staining provides superior nuclear and cytoplasmic contrast.</em></p>2026-04-07T17:40:06+07:00Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatanhttp://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/427UJI KUALITATIF DAN KUANTITATIF DALAM IDENTIFIKASI ALKOHOL PADA KASUS TOKSIKOLOGI FORENSIK: SEBUAH TINJAUAN SISTEMATIS 2026-04-07T20:06:09+07:00Dimas Agustiandimasmaulanaagustian@gmail.comSuhartinisuhartini@ugm.ac.id<p style="font-weight: 400;"><strong>ABSTRAK</strong></p> <p style="font-weight: 400;">Identifikasi etanol dalam toksikologi forensik memegang peranan penting dalam penegakan hukum, terutama dalam kasus kecelakaan lalu lintas, kematian mendadak, atau dugaan keracunan. Dua metode utama yang banyak digunakan dalam konteks ini adalah Conway Microdiffusion sebagai uji kualitatif, serta Gas Chromatography-Flame Ionization Detection (GC-FID) dan varian headspace-nya (HS-GC-FID) sebagai metode kuantitatif. Tinjauan ini disusun secara sistematis berdasarkan literatur dari basis data PubMed, Scopus, dan sumber lainnya, dengan kriteria inklusi mencakup studi observasional atau eksperimental yang mengevaluasi uji etanol secara laboratorium pada spesimen biologis manusia. Tujuh studi yang relevan dianalisis berdasarkan desain, metode analitik, dan konteks forensik. Hasil menunjukkan bahwa metode Conway dan Toxi-Lab Microdiffusion efektif digunakan sebagai uji skrining awal yang hemat biaya dan cepat, meskipun bersifat semi-kuantitatif dan tidak sah sebagai bukti tunggal di pengadilan. Sebaliknya, metode GC-FID dan HS-GC-FID terbukti akurat dan presisi tinggi, dengan rentang konsentrasi deteksi luas, sensitivitas tinggi (LOD hingga 0.006 g/L), serta valid untuk pembuktian hukum. <em>Dual-column confirmation</em> dan penggunaan standar internal turut memperkuat akurasi dan keabsahan hasil. Metode kualitatif dan kuantitatif saling melengkapi dalam praktik toksikologi forensik modern. Pemilihan metode sangat bergantung pada konteks kasus, sumber daya laboratorium, dan kebutuhan pembuktian hukum. Validasi teknis dan keterpaduan regulasi menjadi kunci keberhasilan implementasi di berbagai yurisdiksi<strong>.</strong></p> <p style="font-weight: 400;"><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em style="font-weight: 400;">The identification of ethanol in forensic toxicology plays a crucial role in law enforcement, particularly in cases involving traffic accidents, sudden deaths, or suspected poisoning. Two primary types of methods are widely used in this context: Conway Microdiffusion, as a qualitative test, and Gas Chromatography-Flame Ionization Detection (GC-FID) along with its headspace variant (HS-GC-FID), as quantitative methods. This review was systematically compiled based on literature from the PubMed, Scopus, and other databases, with inclusion criteria encompassing observational or experimental studies that evaluated laboratory-based ethanol testing in human biological specimens. Seven relevant studies were analysed according to their study design, analytical methods, and forensic context. The results indicate that the Conway and Toxi-Lab Microdiffusion methods are effective as cost-efficient and rapid initial screening tests, although they are semi-quantitative in nature and not legally admissible as sole evidence in court. In contrast, GC-FID and HS-GC-FID methods have demonstrated high accuracy and precision, with a wide detection concentration range, high sensitivity (limit of detection as low as 0.006 g/L), and are legally valid for forensic confirmation purposes. The use of dual-column confirmation and internal standards further enhances the accuracy and validity of the results. Qualitative and quantitative methods are complementary in modern forensic toxicology practice. The selection of methods depends heavily on the case context, laboratory resources, and legal evidentiary requirements. Technical validation and harmonization of regulations are key to successful implementation across different jurisdictions<strong>.</strong></em></p>2026-04-07T17:40:46+07:00Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatanhttp://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/435RENAL DENERVATION IN CKD PATIENTS: PATHOPHYSIOLOGICAL RATIONALE, CLINICAL EVIDENCE, AND CONTEMPORARY PERSPECTIVES 2026-04-07T20:06:09+07:00Sidhi Laksonosidhilaksono@uhamka.ac.idWella Widyaniwellawidyani@mail.ugm.ac.id<p style="font-weight: 400;"><strong>ABSTRACT</strong></p> <p style="font-weight: 400;">Hypertension is a central driver of cardiovascular morbidity and progressive renal dysfunction in patients with chronic kidney disease (CKD), yet optimal blood pressure control remains challenging, particularly in advanced disease stages. Resistant hypertension is common in CKD, reflecting complex interactions among volume overload, neurohormonal activation, sympathetic overactivity, and vascular dysfunction. This narrative review synthesizes contemporary evidence on the pathophysiological mechanisms underlying hypertension in CKD, diagnostic challenges related to blood pressure assessment, and integrated therapeutic strategies. Particular emphasis is placed on the evolving role of device-based interventions, especially renal denervation, as an adjunctive therapy for carefully selected patients with resistant hypertension. We review current data supporting renal denervation, discuss patient selection considerations, and highlight unresolved questions regarding long-term efficacy and safety in CKD populations. Special clinical contexts, including dialysis, kidney transplantation, and older adults, are addressed, along with common misconceptions that contribute to therapeutic inertia. By integrating mechanistic insights with emerging clinical evidence, this review aims to inform a more individualized, patient-centered approach to hypertension management in CKD and to clarify the potential clinical niche of renal denervation within contemporary treatment paradigms.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong><em>ABSTRAK</em></strong></p> <p><em style="font-weight: 400;">Hipertensi merupakan pendorong utama morbiditas kardiovaskular dan disfungsi ginjal progresif pada pasien dengan penyakit ginjal kronis (CKD), namun kontrol tekanan darah yang optimal masih menjadi tantangan, terutama pada stadium penyakit yang lebih lanjut. Hipertensi resisten sering ditemukan pada CKD, mencerminkan interaksi kompleks antara kelebihan volume, aktivasi neurohormonal, peningkatan aktivitas simpatis, dan disfungsi vaskular. Tinjauan naratif ini mensintesis bukti terkini mengenai mekanisme patofisiologis yang mendasari hipertensi pada CKD, tantangan diagnostik terkait penilaian tekanan darah, serta strategi terapi terintegrasi. Penekanan khusus diberikan pada peran intervensi berbasis perangkat yang terus berkembang, terutama denervasi ginjal, sebagai terapi tambahan pada pasien terpilih dengan hipertensi resisten. Kami meninjau data terkini yang mendukung denervasi ginjal, membahas pertimbangan seleksi pasien, serta menyoroti pertanyaan yang belum terjawab terkait efektivitas dan keamanan jangka panjang pada populasi CKD. Konteks klinis khusus, termasuk dialisis, transplantasi ginjal, dan populasi usia lanjut, juga dibahas, bersama dengan kesalahpahaman umum yang berkontribusi terhadap inersia terapeutik. Dengan mengintegrasikan wawasan mekanistik dan bukti klinis yang berkembang, tinjauan ini bertujuan untuk mendukung pendekatan manajemen hipertensi pada CKD yang lebih individual dan berpusat pada pasien, serta memperjelas potensi posisi klinis denervasi ginjal dalam paradigma terapi kontemporer.</em></p>2026-04-07T17:41:10+07:00Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatanhttp://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/441HUBUNGAN JENIS ANEMIA TERHADAP STATUS BAKTERIOLOGIS PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI RUMAH SAKIT YW UMI IBNU SINA MAKASSAR2026-04-07T20:06:09+07:00Muh. Jagad Ar-Rahmanjagadarrahman12@gmail.comSri Julyanisri.julyani@umi.ac.idSri Wahyuni Gayatri Bsriwahyuni.gayatri@umi.ac.idYusriani Mangarengiyusriani.mangarengi@umi.ac.idIrmayanti HBirmayanti.irmayanti@umi.ac.id<p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan global dan sering disertai dengan kelainan hematologis, salah satunya anemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan jenis anemia dengan status bakteriologis berdasarkan Tes Cepat Molekuler (TCM) pada penderita tuberkulosis paru di Rumah Sakit YW UMI Ibnu Sina Kota Makassar. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional menggunakan data rekam medis pasien TB paru periode Januari–Desember 2024. Sampel penelitian berjumlah 72 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data dilakukan menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penderita TB paru mengalami anemia mikrositik sebanyak 40 orang (55,6%), sedangkan anemia normositik sebanyak 32 orang (44,4%). Status bakteriologis terbanyak adalah kategori medium (31,9%), diikuti high (30,6%), low (25,0%), dan very low (12,5%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,245 (p>0,05), sehingga tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jenis anemia dan status bakteriologis pada penderita tuberkulosis paru.</p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em>Tuberculosis (TB) remains a major global health problem and is often associated with hematological disorders, one of which is anemia. This study aimed to determine the relationship between the type of anemia and bacteriological status based on the Molecular Rapid Test (TCM) in pulmonary tuberculosis patients at YW UMI Ibnu Sina Hospital, Makassar. This research used a quantitative method with a cross-sectional design using medical record data of pulmonary TB patients from January to December 2024. The sample consisted of 72 patients who met the inclusion and exclusion criteria. Data analysis was conducted using univariate and bivariate analysis with the Chi-Square test. The results showed that most pulmonary TB patients had microcytic anemia (55.6%), while normocytic anemia was found in 44.4% of patients. The most common bacteriological status was medium (31.9%), followed by high (30.6%), low (25.0%), and very low (12.5%). The Chi-Square test showed a p-value of 0.245 (p>0.05), indicating that there was no significant relationship between the type of anemia and bacteriological status in pulmonary tuberculosis patients.</em></p>2026-04-07T17:41:34+07:00Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatanhttp://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/443PENGARUH HIGIENE LINGKUNGAN TERHADAP KEJADIAN PENYAKIT KECACINGAN PADA ANAK USIA SEKOLAH DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KARUWISI2026-04-07T20:06:09+07:00Muhammad Fajar Qusyairifajarqusyairi2503@gmail.comNurfchanti Fattahnungki.mahesarani@yahoo.comDhian Karina Aprilani Hattahnungki.mahesarani@yahoo.comSantriani Hadinungki.mahesarani@yahoo.comWindy Nurul Aisyahnungki.mahesarani@yahoo.comAyu Puspitasarinungki.mahesarani@yahoo.comNungki Mahesaraninungki.mahesarani@yahoo.com<p style="font-weight: 400;"><strong>A<em>BSTRAK</em></strong></p> <p style="font-weight: 400;">Penyakit kecacingan merupakan masalah kesehatan lingkungan yang prevalensinya masih tinggi pada anak sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh aspek higiene lingkungan terhadap kejadian kecacingan di wilayah kerja Puskesmas Karuwisi. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain cross-sectional terhadap 70 responden anak usia 6-12 tahun. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, observasi lingkungan, dan pemeriksaan laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan angka kejadian kecacingan sebesar 34,3%. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan signifikan antara ketersediaan air bersih (p=0,024), pengelolaan air limbah (p=0,018), sarana pembuangan kotoran (p<0,001), dan pengelolaan sampah (p=0,016) dengan kejadian kecacingan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah keempat aspek higiene lingkungan berpengaruh signifikan terhadap infeksi cacing pada anak, dengan sarana pembuangan kotoran sebagai faktor risiko yang paling dominan. Diperlukan upaya peningkatan sanitasi dasar dan edukasi berkelanjutan bagi masyarakat di wilayah tersebut.</p> <p style="font-weight: 400;"> </p> <p style="font-weight: 400;"><strong>ABSTRACT</strong></p> <p><em style="font-weight: 400;">Helminthiasis is an environmental health problem with a high prevalence among school-aged children. This study aims to analyze the influence of environmental hygiene aspects on the incidence of helminthiasis in the Karuwisi Health Center working area. This research is an analytical observational study with a cross-sectional design involving 70 respondents aged 6-12 years. Data collection was conducted through questionnaires, environmental observations, and laboratory examinations. The results showed that the incidence rate of helminthiasis was 34.3%. Bivariate analysis indicated a significant relationship between clean water availability (p=0.024), wastewater management (p=0.018), excreta disposal facilities (p<0.001), and waste management (p=0.016) with the incidence of helminthiasis. The conclusion of this study is that all four aspects of environmental hygiene significantly influence worm infections in children, with excreta disposal facilities being the most dominant risk factor. Efforts to improve basic sanitation and continuous education for the community in the area are highly necessary.</em></p>2026-04-07T17:41:57+07:00Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatanhttp://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/view/445EFEKTIVITAS LIDOKAIN DIBANDINGKAN EFEDRIN SEBAGAI DEKONGESTAN TOPIKAL2026-04-07T20:06:10+07:00Christin Rony Nayoanch.lapadji@gmail.comMuh Azrief Khaidir Anjarmuhasrifkhaidaranjar@gmail.comMishail Rayyanmishail.rayyan@gmail.comImtihanah Amriimtihanahamri@gmail.comAndi Alfia Muthmainnah Tanraalfiamuthmainnah@yahoo.comRahmarahma032.unhas@gmail.com<p style="font-weight: 400;"><strong>ABSTRAK</strong></p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Latar Belakang</strong>: Dekongestan merupakan obat yang digunakan untuk mengurangi kongesti hidung, sinus paranasal, serta mengurangi volume jaringan mukosa edematosa dan sekresi lendir. Efedrin merupakan Dekongestan yang sering di gunakan terutama pada obat flu. Anestesi topikal yang paling umum digunakan untuk tindakan naso/oropharyngeal adalah lidokain. Anestesi lokal topikal dan dekongestan biasanya digunakan pada lubang hidung untuk mengurangi rasa sakit pada hidung dan untuk memperluas bidang pandang.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Tujuan</strong>: Untuk mengetahui efektivitas lidokain dibandingkan efedrin sebagai dekongestan topikal.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Metode</strong>: Jenis penelitian ini bersifat quasi eksperimental<em>.</em> Sampel pada penelitian ini sebanyak 12 orang (pada 2 rongga hidung) yang dipilih secara acak berdasarkan kriteria inklusi dan kriteria ekslusi yang telah di tentukan. Peneliti membagi sampel menjadi 2 kelompok perlakuan yaitu kelompok lidokain dan kelompok efedrin.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Hasil</strong>: Tidak terdapat perbedaan efektivitas pada pemberian lidokain sebelum dan sesudah yaitu 0.059 (p>0.05), pada pemberian efedrin didapatkan 0.002 (p<0.05) yang artinya terdapat perbedaan efektivitas dari pemberian efedrin sebelum dan sesudah. Efektivitas lidokain dibandingkan efedrin didapatkan hasil 0.002 (p<0.05) yang artinya terdapat perbedaan efektivitas dari lidokain dan efedrin sebagai dekongestan topikal dengan selisih rata-rata diameter konka hidung yaitu 2.00 mm. Serta lidokain menunjukkan 67% pasien merasakan sensasi tidak nyaman sesudah menggunakan lidokain dan efedrin menunjukkan respon baik yaitu 75% pasien merasakan sensasi rasa nyaman.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Kesimpulan</strong>: Terdapat perbedaan efektivitas dekongestan topikal, dimana efedrin terbukti efektif dan lidokain terbukti tidak efektif sebagai dekongestan topikal. Serta Lidokain menunjukkan rasa tidak nyaman pada kelompok perlakuan dan pada pemberian efedrin terdapat rasa nyaman.</p> <p style="font-weight: 400;"> </p> <p style="font-weight: 400;"><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p style="font-weight: 400;"><strong><em>Background:</em></strong><em> </em><em>Decongestants are a class of drugs used to relieve nasal and paranasal sinus congestion by reducing mucosal edema and mucus secretion. Ephedrine is commonly used as a decongestant, particularly in the management of the common cold. Lidocaine, a topical anesthetic, is widely used in naso- and oropharyngeal procedures. Both topical anesthetics and decongestants are applied intranasally to reduce discomfort and improve visualization.</em></p> <p style="font-weight: 400;"><strong><em>Objective:</em></strong><em> </em><em>To compare the effectiveness of lidocaine and ephedrine as topical nasal decongestants. </em></p> <p style="font-weight: 400;"><strong><em>Methods:</em></strong><em> </em><em>This quasi-experimental study included 12 participants (24 nasal cavities) selected based on predefined inclusion and exclusion criteria. Samples were randomly allocated into two groups: lidocaine and ephedrine.</em></p> <p style="font-weight: 400;"><strong><em>Results:</em></strong><em> </em><em>Lidocaine showed no significant difference in effectiveness before and after administration (p = 0.059). In contrast, ephedrine demonstrated a significant improvement (p = 0.002). A significant difference was also observed between the two groups (p = 0.002), with a mean turbinate diameter reduction of 2.00 mm favoring ephedrine. Additionally, 67% of participants reported discomfort with lidocaine, whereas 75% reported comfort with ephedrine.</em></p> <p style="font-weight: 400;"><strong><em>Conclusion:</em></strong><span style="font-weight: 400;"><em> </em></span><em style="font-weight: 400;">Ephedrine is effective as a topical nasal decongestant, while lidocaine is not. Ephedrine is also better tolerated, whereas lidocaine is associated with a higher incidence of discomfort</em></p>2026-04-07T17:42:21+07:00Copyright (c) 2026 Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan